Catatan Zulnas.com
Zulnas.com, Batubara –Ratusan kapal nelayan terlihat bersandar diperairan Sei Batubara kiri tepatnya di Pelabuhan Tanjung Tiram Kabupaten Batubara Propinsi Sumatera Utara, Sabtu (18/2/2022) siang.
Kapal- kapal tersebut bersandar sambil mengisi bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan operasional selama operasi menangkap ikan di laut.
Sejauh mata memandang, kapal yang bersandar itu terlihat memadati alur sungai Sei Batubara kiri. Pada saat pasangan surut, kondisi alur sungai di Pelabuhan Tanjung Tiram terlihat begitu dangkal.
Kapal-kapal yang melintasi dialur selat malaka itu, terpaksa harus ekstra hati-hati, karena sisi kiri dan kanan dipadati oleh kapal yang bersandar hingga menjorok ketengah, disamping adanya pendangkalan alur sungai akibat sedimentasi.
Dermaga Sungai Butuh Dikeruk
Pemerintah Kabupaten Batubara, beberapa tahun lalu telah merencanakan untuk melakukan pengerukan alur sungai Pelabuhan Tanjung Tiram. Upaya itu dilakukan dalam menjaga keberlangsungan para nelayan agar mudah berlayar dalam menjalankan aktivitas melaut.
Semasa pak Edy Rahmayadi sebagai pangkostrad, pernah meninjau langsung kondisi alur sungai didaerah Tanjung Tiram, bahkan, pada masa itu, pemerintah sempat mengajukan kepemerintah ke pusat agar proyek pengurukan sungai dapat dilaksanakan.

Baca : Jangan Ngaku Warga Batubara, Kalau Belum Tahu Misteri Pulau Salah Nama
Tak tanggung- tanggung, Proyek tersebut membutuhkan anggaran ratusan milyar, sehingga pemerintah daerah terpaksa harus mengajukan ke pusat sebagai salah satu dukungan dana agar proyek tersebut dapat dilaksanakan di Batubara.
Rencana itu, nampaknya tak membuahkan hasil, dari tahun ke tahun ditunggu tak turun-turun sehingga kondisi alur sungai terus mengecil hingga tidak bisa dilalui oleh kapal-kapal besar termasuk kapal Ferry rute Pelabuhan Tanjung Tiram – Port Klang yang sempat beroperasi didaerah setempat, namun tak lama, berhenti.
Kapal Jaring Gembung
Di Pelabuhan Tanjung Tiram, kapal yang bersandar itu disebut dengan nama kapal jaring gembung. Biasanya, kapal tersebut beroperasi mulai pada jam 3 sore dan pulang hingga subuh dini hari.
Selama semalaman, Kapal tersebut berangkat melaut mencari titik-titik koordinat untuk melabuhkan jaringnya.
Selama dilaut, Anak Buah Kapal (ABK) akan terus bekerja tanpa tidur berburu ikan diwaktu malam sehingga aktivitas nelayan disibukkan dengan buang jaringan (melabuh) untuk menangkap ikan.
Ikan-ikan yang didapat kapal tersebut, pada umumnya disebut ikan gembung. Ikan itu, sebagai salah satu target kapal jaring gembung untuk dibawah dan dijual di dermaga pelabuhan Tanjung Tiram.
Baca : Salurkan Bantuan 30 Unit Perahu, Bukti Zahir Berpihak Pada Nelayan
Selama beroperasi dilaut, Nelayan, biasanya menggunakan pasilitas telekomunikasi untuk digunakan para tekong kapal jaring gembung.
Mereka, kemudian, saling bertukar informasi selama ditengah laut untuk menginformasikan titik lokasi fishing ground (tempat berkumpul ikan) agar dapat saling membantu untuk menangkap ikan yang diburu.

Selama ditengah laut, pada umumnya, kapal-kapal yang berukuran 6 GT tersebut akan menggunakan cahaya lampu sebagai alat penerangan agar dapat mengumpulkan gerombolan ikan.
Setelah ikan berkumpul, jaring yang sudah dipasang itu akan hanyut dibawa arus dan dilanggar oleh kawanan ikan. Untuk memudahkan kerja, nelayan menggunakan pelampung agar jaring tersebut tidak tenggelam dan mengambang ditengah perairan.
Setelah beberapa jam jaring dipasang dan langsung diangkat untuk mengumpulkan ikan. Setelah hasil tangkapan cukup, Nelayan langsung kembali ke dermaga Tanjung Tiram untuk menjual hasil tangkapan.
Perjalanan yang di tempuh para nelayan menuju lokasi penangkapan diperkirakan 4 hingga 5 jam-an, umumnya, para nelayan akan beroperasi di halaman pulau salah nama dan halaman pulau pandan.
Profesi Nelayan Mayoritas di Tanjung Tiram
Masyarakat pesisir pantai Kecamatan Tanjung Tiram pada umumnya berprofesi sebagai nelayan. Mereka mencari nafkah sebagai berburuh ikan, sedangkan istri para nelayan sebagai pengelolaan hasil tangkapan seperti mengasin ikan.
Baca : 2022, Dinas Perikanan Akan Siapkan Wilayah Fishing Ground Bagi Nelayan di Batubara
Menurut Badan Pusat Statistik Kecamatan Tanjung Tiram di Kabupaten Batubara jumlah profesi sebagai nelayan di Tanjung tiram diperkirakan hingga mencapai 70 persen. Sedangkan 30 persen sisanya sebagai pedagang, Ojek, dan Pegawai Swasta dan Pegawai Pemerintah.
Sebagian besar profesi nelayan itu, akan mempengaruhi kondisi ekonomi didaerah setempat. Tak heran, jika kemudian hasil tangkapan nelayan berkurang, akan berdampak langsung terhadap daya beli. Para pedagang akan turut berdampak sunyi dari pembeli.
Kebutuhan Ikan Cukup Tinggi
Tren kebutuhan akan pasokan ikan khususnya di Kecamatan Tanjung Tiram terbilang cukup tinggi. Ikan- ikan dari hasil tangkapan nelayan setempat disebutkan tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pasar setempat.
Selain dari hasil tangkapan nelayan, ikan yang berada di TPI Tanjung Tiram juga didatangkan dari berbagai daerah seperti Sibolga, Belawan, Tanjung Balai, bahkan terkadang Aceh juga masuk untuk memenuhi kebutuhan ikan di pasar Tanjung Tiram.
Rahman, warga Tanjung Tiram menyebutkan kebutuhan ikan hasil tangkapan nelayan lokal terkadang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan akan ikan.
Ketika hasil tangkapan nelayan setempat berkurang, makan akan terjadi ‘inflasi’ sehingga akan mempengaruhi harga jual barang.
“Seperti hukum pasar, jika permintaan tinggi, sementara barang sedikit, makan harga ikan akan naik, namun begitu juga sebaliknya,” kata Rahman kepada zulnas.com, di Tanjung Tiram, Sabtu (19/2/2022).
Sejauh ini, kata Rahman, ikan-ikan yang dijual di pelabuhan Tanjung Tiram juga didatangkan dari berbagai daerah. Sedangkan para pembeli yang datang ke TPI Pelabuhan Tanjung Tiram biasanya dari Batubara, kisaran, Siantar dan berbagai daerah lainnya.
“Memang, ikan hasil tangkapan nelayan lokal itu jauh lebih segar jika dibandingkan dari luar, makanya, ketika tangkapan nelayan berkurang, kondisi pedagang di TPI juga lamah, hanya dibantu dari pasokan ikan yang dari luar daerah,” terangnya. ****