Selamatkan Pasir Kuarsa Batubara Sebelum Laut Jadi Lubang Bekas Raksasa

- Jurnalis

Minggu, 19 Oktober 2025 - 14:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zulnas.com, Batubara — Di negeri yang katanya “kaya sumber daya alam”, siapa sangka pasir pun bisa dicuri dengan rakus, bak seperti emas di dalam perut bumi tanah. Ironisnya, ini terjadi bukan di lautan lepas yang jauh dari pandangan mata, melainkan di depan mata sendiri di wilayah pesisir Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Propinsi Sumatera Utara.

Ya, di sanalah satu unit kapal keruk tanpa bendera, tanpa identitas, tanpa malu sibuk mengisap isi perut laut, menggantikan ombak yang dulu menenangkan menjadi amarah diam-diam dari alam.

Warga menyebutnya “kapal hantu pasir”. Tapi jangan salah, hantunya bukan gaib, ia berwujud besi, bermesin, dan mungkin punya teman di darat yang berpakaian rapi.

Ketika Pasir Lebih Berharga dari Nelayan

Di pesisir Batubara, nelayan bangun subuh-subuh demi seember ikan. Tapi di tengah laut, ada kapal yang bisa menghasilkan 10.000 meter kubik pasir dalam tiga hari. Siapa yang tak tergoda dengan bisnis yang lebih cepat dari panen sawit dan lebih basah dari janji kampanye?

Pasir kuarsa. Ya itulah harta karun yang selama ini diam di dasar laut, kini berubah jadi incaran. Padahal, bukan hanya batu dan butiran putih itu yang diambil, tapi juga masa depan. Laut jadi dangkal, karang rusak, ikan menghilang. Desa-desa di pesisir seperti Guntung, Bagan Arya, dan Bandar Rahmat tinggal menunggu giliran ditelan abrasi.

Baca Juga :  Terkait Silpa Tahun 2025, Ini Penjelasan Kadis BKAD Batubara

Izin? Ah, Itu Hanya Formalitas

Kata Awal Walet, warga Tanjung Tiram, kapal itu tak punya KKPRL, tak punya dokumen kapal, bahkan mungkin tak punya rasa bersalah. “Yang dibawa cuma izin nahkoda dan akta kelahiran,” katanya sinis.

Lucu, ya? Di negeri ini, seolah-olah mencuri pasir laut tak perlu surat apa pun cukup kenalan yang tepat dan keberanian menutup mata. Dan entah kenapa, kapal-kapal itu bisa bolak-balik dengan tenang, seolah laut Batuboara bukan lagi milik rakyat, tapi milik mereka yang pandai bermain di antara aturan.

Ketika Negara Bicara, Laut Sudah Retak

Padahal, Dirjen Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut, Viktor Gustaaf Manoppo, sudah mengingatkan sejak tahun lalu:

“Belum ada satu pun izin resmi untuk pengerukan pasir laut sesuai PP Nomor 26 Tahun 2023.”

Artinya? Semua pengerukan itu ilegal. Tapi di lapangan, mesin terus berdengung, ombak terus terganggu, dan laporan masyarakat terus menguap seperti buih di pantai.

Entah di mana aparat laut yang katanya menjaga kedaulatan. Atau jangan-jangan, kedaulatan itu kini bisa ditukar dengan beberapa meter kubik pasir?

Baca Juga :  Oky Tanggapi, Soal Tunggakan Lampu Jalan Sudah Ditangani

Laut yang Marah Tak Akan Diam

Bukan hanya nelayan yang akan kalah. Terumbu karang pun akan ikut mati. Pantai yang dulu tempat bermain anak-anak kini perlahan tergerus. Dan ketika ombak besar datang, jangan salahkan alam salahkan kerakusan kita yang tak pernah kenyang.

Sepanjang 62 KM Pesisir Batubara adalah garis kehidupan bukan ladang tambang bawah laut. Jika pasir kuarsa terus disedot, maka yang tersisa hanyalah laut keruh, pantai berlubang, dan sejarah baru tentang “bagaimana manusia bisa kehilangan lautnya sendiri.”

Sebelum Semua Terlambat

Kita tidak butuh pidato pejabat tentang “komitmen lingkungan.” Kita butuh tindakan nyata: hentikan kapal ilegal, buka data izin, dan tangkap pemain di balik layar.

Karena laut tidak bisa bersuara, maka kitalah yang harus bicara. Jangan tunggu pasir terakhir di pesisir Batubara lenyap, lalu baru kita sadar kita telah menukar masa depan anak-anak dengan tumpukan pasir di kapal asing.

Pejabat Batubara sedang diuji. Bukan soal seberapa banyak pasir yang bisa dijual, tapi seberapa lama lagi laut bisa menahan sabar. ****Dan.

Follow WhatsApp Channel zulnas.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dipicu Penghalangan Peliputan Kasus Tahanan Kabur, Puluhan Wartawan Batubara Demo Lapas Labuhan Ruku
Anak Nelayan Pesisir Batubara Raih Gelar Doktor Pendidikan Islam di UINSU Medan
Gas Melon, Data Kemiskinan, dan Pertaruhan Kebijakan di Batubara
Libur Distribusi Jadi Pemicu Kelangkaan, Disnakerperindag Batubara Ungkap Fakta LPG 3 Kg
“Secangkir Kopi, Sejuta Harapan, UMKM Menghidupkan Pesisir Tanjung Tiram”
Warga Mengeluh Gas LPG Langkah, Disperindag Batubara Ngaku Telah Turun Lapangan
Gas LPG 3 Kg Langka di Tanjung Tiram, Harga Tembus di Atas HET
Mengulas Pejabat Yang Dilantik Baharuddin Siagian

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 15:09 WIB

Dipicu Penghalangan Peliputan Kasus Tahanan Kabur, Puluhan Wartawan Batubara Demo Lapas Labuhan Ruku

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:10 WIB

Anak Nelayan Pesisir Batubara Raih Gelar Doktor Pendidikan Islam di UINSU Medan

Jumat, 8 Mei 2026 - 02:47 WIB

Gas Melon, Data Kemiskinan, dan Pertaruhan Kebijakan di Batubara

Kamis, 7 Mei 2026 - 21:32 WIB

Libur Distribusi Jadi Pemicu Kelangkaan, Disnakerperindag Batubara Ungkap Fakta LPG 3 Kg

Rabu, 6 Mei 2026 - 21:14 WIB

Warga Mengeluh Gas LPG Langkah, Disperindag Batubara Ngaku Telah Turun Lapangan

Berita Terbaru