Zulnas.com, Batubara — Harapan ratusan petani cabai di Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batubara, nyaris hanyut bersama luapan Sungai Gambus. Saat tanaman memasuki masa panen, air justru datang merendam kebun dan persawahan, mengancam kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Banjir yang terjadi sejak Selasa (4/8/2026) itu diduga dipicu pengalihan aliran Sungai Dalu-Dalu ke Sungai Gambus sebagai bagian dari pekerjaan rehabilitasi bendung. Hingga Kamis (6/8/2026), genangan setinggi 50–80 sentimeter masih menutupi lahan pertanian dan permukiman warga.
Sedikitnya sekitar 150 hektare lahan cabai yang siap dipanen, ratusan hektare sawah yang memasuki fase pembungaan, serta belasan rumah warga di Dusun VI, VII, dan VIII terdampak banjir.
Di tengah genangan, para petani berusaha menyelamatkan tanaman mereka dengan mesin pompa air. Namun upaya itu belum mampu mengimbangi derasnya debit air yang terus mengalir.
Budi (35), petani di Dusun VI, mengaku lahan cabainya seluas 15 rante mulai terendam pada Kamis siang.
“Kami menggunakan mesin pompa untuk membuang air agar tanaman cabai tidak mati. Padahal tanaman sudah mendekati masa panen,” ujarnya.
Hal serupa dialami Endri (42). Lahan cabai miliknya seluas 10 rante juga terendam. Ia berharap air segera surut agar tanaman yang masih tersisa dapat diselamatkan.
Sementara itu, Legi (72), warga setempat, mengatakan air mulai memasuki areal pertanian sejak Selasa dan terus meningkat hingga merendam kebun cabai maupun sawah.
Camat Lima Puluh Pesisir, Sabri, menjelaskan banjir mulai terjadi setelah dilakukan pengalihan aliran Sungai Dalu-Dalu menuju Sungai Gambus dalam rangka pekerjaan rehabilitasi bendung.
“Karena ada perbaikan di Sungai Dalu-Dalu, dilakukan pengalihan aliran air ke Sungai Gambus sejak Sabtu (1/8/2026),” kata Sabri sebagaimana dilansir medanmerdeka.
Menurutnya, Sungai Gambus tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menampung tambahan debit air sehingga meluap ke wilayah hilir, termasuk Desa Gambus Laut.
“Debit air terus meningkat dan hingga kini masih merendam permukiman warga serta lahan pertanian cabai dan padi. Cabai belum sempat dipanen, sementara padi juga baru akan mengeluarkan bunga,” jelasnya.
Pemerintah Kecamatan Lima Puluh Pesisir telah melaporkan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Batubara dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara agar segera dilakukan penanganan.
Sementara itu, Kepala Desa Gambus Laut, Zaharuddin, menyebut sedikitnya 15 rumah warga di Dusun VII dan VIII telah kemasukan air. Selain itu, sekitar 150 hektare lahan pertanian cabai dan padi turut terdampak.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah video dan foto banjir beredar luas di media sosial melalui unggahan akun Facebook Nur Afni Juhu. Dalam unggahannya, ia menyebut warga tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai pengalihan aliran sungai yang diduga menjadi penyebab banjir.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pengalihan aliran sungai dilakukan untuk mendukung proyek Rehabilitasi Bendung DI Cinta Maju/Cinta Damai (PTHC-5b) di Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batubara.
Proyek senilai sekitar Rp19,78 miliar tersebut bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026 dan dikerjakan oleh PT Razasa Karya Medan dengan masa pelaksanaan selama 180 hari kalender.
Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Batubara, Hendra Kumara, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait di tingkat provinsi.
“Sudah dilakukan koordinasi dengan Dinas Perairan Provinsi Sumatera Utara agar segera dilakukan pengurangan debit air,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Kini, para petani hanya bisa berharap air segera surut. Jika genangan bertahan lebih lama, bukan hanya panen cabai yang gagal, tetapi juga musim tanam padi yang menjadi tumpuan penghasilan masyarakat Gambus Laut terancam mengalami kerugian besar. (Mm).












