Zulnas.com,Labuhanbatu-Hampir setiap hari di Simpang Padang Matinggi, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu, terlihat seorang ibu paruh baya menjajakan es Bandung. Dialah Yeti, perempuan 55 tahun yang sudah 13 tahun menjalani usaha ini.
Perempuan asal Bandung yang kini tinggal di Aek Paing itu mulai berjualan sejak 2013. Selama 13 tahun, panas, hujan, ramai, hingga sepi pembeli sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Tempat jualannya sederhana. Hanya sebuah gerobak di tepi jalan. Dari situlah Yeti setiap hari berusaha mencari rezeki untuk keluarganya.
Suara kendaraan yang lalu-lalang di Simpang Padang Matinggi sudah menjadi teman sehari-harinya. Jika cuaca panas, ia tetap melayani pembeli. Saat hujan turun, ia buru-buru menutup dagangannya dengan plastik agar tidak basah.
Bagi Yeti, hujan adalah tantangan paling berat. Jika hujan, pembeli biasanya berkurang. Bahkan tidak jarang modal yang dikeluarkan untuk hari itu tidak kembali.
Siang itu, saat ditemui awak media di tempat jualannya, Yeti tetap ramah melayani pembeli sambil sesekali mengobrol.
“Bu, sudah berapa lama jualan es Bandung ini?” tanya awak media.
“Sudah 13 tahun, Pak. Sejak 2013,” jawab Yeti.
“Pernah kepikiran untuk berhenti?”
Yeti menggeleng. “Tidak, Pak. Harus jalan terus. Di rumah ada yang sakit, ada anak yang masih sekolah. Kalau saya berhenti, siapa yang mencari?” ujarnya.
Yeti bercerita, dulu suaminya yang berjualan, sedangkan ia di rumah. Namun karena suaminya sekarang sedang sakit, ia yang lebih banyak mengambil peran untuk mencari nafkah di luar.
“Kalau hujan bagaimana, Bu?” tanya awak media lagi.
“Ya sepi, Pak. Kadang tidak balik modal. Tapi besok tetap jualan lagi,” jawabnya, Sabtu (08/08/2026).
Jawaban sederhana itu menggambarkan kesehariannya. Mau ramai atau sepi, keesokan harinya ia tetap menyiapkan dagangan dan kembali berjualan.
Yeti memiliki tiga orang anak. Dua di antaranya sudah menikah, satu lagi masih sekolah.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu anaknya yang masih sekolah, Yeti memilih tetap bekerja. Menurutnya, selama badan masih kuat dan masih diberi kesehatan, berjualan adalah jalan yang harus ia tempuh.
Selama 13 tahun berdagang, suka dan duka sudah ia rasakan. Ada hari dagangan ramai dan hasilnya cukup. Ada juga hari ketika hujan turun, dagangan sepi, sampai modal tidak kembali. Namun Yeti tidak banyak mengeluh.
Di sela-sela wawancara, beberapa pembeli datang. Yeti langsung menghentikan obrolan, meracik es Bandung, menyerahkannya kepada pembeli, lalu kembali duduk menunggu pembeli berikutnya.
Bagi Yeti, berjualan bukan hanya soal untung. Ada keluarga yang harus dipikirkan dan kebutuhan yang harus dipenuhi.
Di tengah kesibukan Kota Rantauprapat, orang mungkin hanya melihat seorang ibu yang jualan es Bandung di pinggir jalan.Padahal di balik dagangan sederhana itu ada perjuangan panjang seorang ibu 55 tahun yang setiap hari berusaha demi keluarganya.Ce Ha












