Zulnas.com, Tanjung Tiram — Aktivitas perdagangan di Pasar Ikan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Propinsi Sumatera Utara, pada Kamis (25/6/2026), tampak lesu. Sejumlah lapak pedagang terlihat kosong, sementara jumlah pembeli yang datang ke pasar tradisional tersebut jauh berkurang dibandingkan hari-hari biasanya.
Pantauan zulnas.com, sejak pukul 06.00 WIB terlihat di Jalan Nelayan dan Jalan Rakyat di Pusat kota Tanjung Tiram menunjukkan pergerakan ekonomi rakyat di pasar itu belum menggeliat. Pedagang mengaku kondisi tersebut telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir seiring melemahnya daya beli masyarakat dan naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok.
Beberapa komoditas yang masih bertahan pada harga tinggi antara lain ikan gembung yang dijual sekitar Rp35.000 per kilogram, cabai merah mencapai Rp40.000 per kilogram, serta minyak goreng merek Minyak Kita program subsidi pemerintah dari Bulog yang dipasarkan sekitar Rp22.000 per liter.
Kenaikan harga kebutuhan pokok ini diduga dipengaruhi oleh meningkatnya biaya distribusi dan transportasi setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax.
Soleh, salah seorang pedagang buah di Pasar Tanjung Tiram, mengaku penjualan dagangannya mengalami penurunan cukup signifikan.
“Kondisi ini sudah terjadi beberapa minggu. Kami kesulitan menjual barang karena daya beli masyarakat melemah,” ujarnya.
Tidak hanya komoditas harian, harga beras yang menjadi kebutuhan utama masyarakat juga mengalami kenaikan rata-rata sekitar Rp1.000 per kilogram. Kenaikan tersebut terjadi pada berbagai merek dan kemasan beras yang beredar di pasaran.

Berdasarkan daftar harga terbaru, beras merek KPMJ kemasan 4,5 kilogram kini dijual Rp69.000, kemasan 9,5 kilogram Rp143.000, dan kemasan 29,5 kilogram mencapai Rp440.000. Sementara beras Rajawali kemasan 5 kilogram dipasarkan Rp76.000, kemasan 10 kilogram Rp150.000, dan kemasan 30 kilogram mencapai Rp447.000.
Untuk kategori premium, beras KPMJ Super kemasan 25 kilogram dijual Rp393.500, sedangkan beras Geisha kemasan 5 kilogram mencapai Rp80.000, kemasan 10 kilogram Rp158.500, dan kemasan 30 kilogram mencapai Rp471.000.
Kondisi ini menambah tekanan bagi masyarakat, terutama kalangan berpenghasilan rendah yang harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Pelaku pasar berharap pemerintah segera mengambil langkah stabilisasi harga dan memperkuat pengawasan distribusi bahan pokok agar kenaikan harga tidak terus membebani masyarakat.
Di sisi lain, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal juga dinilai penting untuk mengembalikan daya beli masyarakat yang saat ini terlihat mengalami penurunan.
Sepinya pasar tradisional menjadi sinyal bahwa persoalan yang dihadapi bukan hanya soal harga yang naik, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk membeli yang semakin terbatas. Dalam jangka panjang, kondisi ini perlu mendapat perhatian serius agar roda ekonomi rakyat di tingkat bawah tetap bergerak dan tidak semakin melemah. (Dan).












