Zulnas.com, Batubara — Suasana pedagang di pelataran pelabuhan Tanjung Tiram terlihat ramai, para pedagang menjajakan makanan, parkir kendaraan yang berjejer juga turut menjadi perhatian, Sampah berserakan hingga pundi-pundi penghasilan.
Ia, banyak yang menjadi sudut pandang disana, berbagai aspek menjadi perhatian, mulai dari sisi keramaian, aktivitas pedagang, sampah dan parkir yang berjejer dipelataran pelabuhan Tanjung Tiram.
Selama lebaran Idul Fitri, salah satu objek yang menjadi lirikan adalah laut. Dimana laut mempunyai wisata bahari yang tak kalah seksi dibandingkan dengan wisata lainnya. Pantai yang berjejer, hingga pulau nun jauh didatangkan para wisatawan.
Kita akan membahas satu persatu dari berbagai aspek yang menjadi Outline dan sudut pandang.
Minggu (24/4/2023) itu, saya dan teman sempat mengunjungi Pelabuhan Tanjung Tiram. Saya sengaja datang untuk melihat keramaian. Berbagai pedagang terlihat sibuk dengan aktivitas dagangan hingga membuat sejumlah sampah berserakan, petugas parkir juga tak kalah menjadi pantauan.
Keberadaan Pelabuhan Tanjung Tiram
Pelabuhan Tanjung Tiram Kabupaten Batubara Sumut adalah asetnya Kementrian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut berbilang tahun tak beroperasi.
Pelabuhan yang terletak di Ujung Jalan Merdeka Kecamatan Tanjung Tiram juga selalu disebut masyarakat setempat sebagai pelabuhan bom hanya beberapa bulan beroperasi setelah dibangun 12 tahun yang lalu.
Pelabuhan yang dibangun dengan dana milyaran rupiah ini hanya dihuni beberapa orang pegawai saja. Halamannya terkesan kurang terurus, menjadi tempat parkir kenderaan dan transit bahan bangunan masyarakat yang berada di seberang pelabuhan.
Kepala Wilayah Kerja pelabuhan Tanjung Tiram Sutriono pernah mengatakan pelabuhan ini pernah beroperasi beberapa bulan sejak dibangun, tetapi karena alur sungai pantai laksamana dangkal di waktu air pasar surut pemilik kapal penumpang Batubara – Port Klang menghentikan operasionalnya.
Setiap tahun permohonan pengerukan alur sungai diajukan beliau ke pusat. Namun hingga kini belum terealisasikan.
“Tiap tahun kita ajukan permohonan pengerukan alur sungai, tapi sampai kini belum terealisasikan oleh pemerintah pusat,” Kata Sutriono kepada zulnas.com
Sedangkan pendapatan dari pengelolaan parkir di pelabuhan itu di setor juga ke pusat. Sementara material bangunan milik masyarakat beliau mentolerirnya karena digunakan sebagai transit sesaat.
Sekedar diketahui, Pelabuhan Tanjung Tiram awalnya pelabuhan yang dibangun pemerintah Belanda.
Kedatangan pasukan jepang tahun 1942 ke Sumatera timur melalui pantai perupuk yang hanya berjarak belasan mil dari pelabuhan Tanjung Tiram.
Belanda membom pelabuhan itu karena khawatir dimanfaatkan oleh bala tentara Jepang.

Suara dentuman penghancuran pelabuhan itu terdengar masyarakat sekitar seperti suara bom yang dijatuhkan.
Masyarakat setempat berharap Dirjen Perhubungan Laut memperdalam dengan mengeruk alur sungai agar transportasi kapal penumpang Batubara – Port Klang Malaysia bisa beroperasi kembali.
Pedagang Mencari Cuan
Sejak dibangunnya pelabuhan Tanjung Tiram, hingga kini terus menjadi pusat perekonomian baru bagi masyarakat, khususnya masyarakat nelayan.
Kini, pelabuhan itu menjadi primadona bagi warga, dari berbagai kecamatan juga ramai datang berkunjung disana untuk melihat pemandangan sambil menaiki tambang (sampan), momentum itu ternyata dapat meningkatkan pendapatan pedagang didaerah setempat.
Memang, sejauh itu, riuh terdengar ditelinga para pedagang yang berjualan disana dipungut dengan alasan uang kebersihan, para pedagang juga tak keberatan karena memang disana masih dapat dimanfaatkan untuk berjualan.
Apalagi, tak kala musim pengikan, para pedagang akan sibuk menjajakan makanan karena banyak nelayan pulang membawa hasil tangkapan. Lumayan lah.

Sampah Berserakan
Memang aktivitas pedagang tak luput dari sampah dagangan, kadang-kadang sampah juga tak dibersihkan, sehingga terlihat jorok kian dipandang, tapi apalah daya, pihak Pelabuhan juga tak menghiraukan.
Selain, parkir kereta, disana juga terlihat parkir kendaraan roda empat, para wisatawan pergi kepulauan Pandang hingga ke pulau salah nama, kendaraan yang parkir menjadi Cuan pendapatan, hingga kini, tak tau apakah masuk Kas Daerah, atau masuk kantong pejabat yang lainnya.
Terkadang, pungutan parkir juga menjadi masalah pagi pengendara, ada yang memberi, banyak juga yang tak terima, sehingga menjadi masalah konflik disana, tak tak masalah, yang penting pedagang senang dan wisatawan tak keberatan.
Semoga kedepan, Pelabuhan Tanjung Tiram jadi lirikan pemerintah daerah, dan dapat difungsikan kembali sebagaimana layaknya. Semoga. ***Et