Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/u394909811/domains/zulnas.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Demokrasi Kita Bak Harapan yang Tertinggal di Persimpangan

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 17 Oktober 2024 - 21:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zulnas.com, Batubara — Di balik euforia reformasi yang melahirkan harapan baru bagi rakyat Indonesia, tersimpan cerita lain yang lebih suram. Kisah ini bukan tentang runtuhnya rezim otoriter Soeharto, melainkan tentang kelanjutan demokrasi yang terasa pincang.

Seiring waktu, demokrasi yang diidamkan seolah terjebak dalam pusaran kekuasaan dan modal. Ada harapan, tetapi mungkin semakin jauh dari kenyataan.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Lord Acton, “kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan mutlak pasti korup.” Ungkapan ini terasa sangat relevan dalam melihat wajah demokrasi Indonesia pasca-reformasi.

Meski sudah dibentuk tiga pilar negara — eksekutif, legislatif, dan yudikatif — ketiganya belum berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Sering kali, pilar-pilar ini tak lagi berdiri sendiri, tetapi dikuasai oleh satu pihak, entah itu eksekutif, pengusaha, atau cukong politik.

Jika di masa Orde Baru eksekutif mendominasi segala lini, hari ini keadaan pun tak jauh berbeda. Bedanya, kini para pengusaha besar dan pemodal ikut bermain. Pilpres, pileg, dan pilkada yang sejatinya menjadi pesta demokrasi, kini lebih menyerupai ajang investasi.

Baca Juga :  Wahid dan Abdu Turun 'Tahta', Arif Hanafiah Jadi Bapeda Batubara

Masyarakat, terhimpit oleh kemiskinan, kerap kali menjual hak suaranya demi uang receh, tanpa menyadari bahwa masa depan mereka telah tergadai kepada cukong-cukong politik.

Apa yang kemudian kita dapatkan? Anggota legislatif yang dihasilkan dari proses demokrasi ini kerap kali tak memiliki kapasitas atau rekam jejak perjuangan rakyat. Mereka hanyalah produk dari kekuatan uang dan ambisi politik.

Partai politik pun menyambut kemenangan mereka dengan bangga, seolah-olah kader sejati telah lahir dari rahim demokrasi. Namun, berharap kepada mereka untuk membawa perubahan, rasanya sama saja dengan berharap kepada ketidakpastian.

Tak jauh berbeda dengan legislatif, pilar yudikatif juga tak lepas dari cengkraman korupsi. Lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah cerminan nyata ketidakmampuan institusi hukum kita dalam menegakkan kebenaran. Kasus-kasus besar seperti yang melibatkan Joko Candra menunjukkan bahwa bau busuk korupsi telah lama tersimpan, dan kini mulai tercium dari bilik-bilik kekuasaan.

Baca Juga :  Menelisik Jejak Karier Lendi Aprianto

Di sisi eksekutif, kekuasaan justru semakin terlihat seperti barang dagangan. Pernyataan Bambang Soesatyo yang menyebut bahwa hanya perlu Rp 1 triliun untuk menguasai partai politik di Indonesia, adalah ironi yang menyedihkan.

Di level lokal, para cukong politik bahkan dengan mudah bisa “membeli” kursi kepala daerah. Masyarakat pun tak lebih dari pelengkap penderita dalam proses ini. Mereka lepas dari mulut harimau, masuk ke kandang buaya.

Namun, apakah semua sudah berakhir? Tidak. Harapan masih ada. Meskipun demokrasi kita terasa “terlanjur rusak”, solusi pasti ada. Mungkin ini bukan soal revolusi berdarah yang pernah dikhawatirkan, tetapi tentang reformasi yang lebih dalam. Sebab, seperti kata George Soros, jabatan publik bukanlah untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan untuk kesejahteraan rakyat.

Saat ini, kita hanya perlu bersabar. Demokrasi yang benar mungkin masih di tikungan jalan. Tapi, apakah kita siap untuk memperjuangkannya, atau kembali membiarkan demokrasi dijadikan alat oleh mereka yang berkuasa? Waktu yang akan menjawab. ****

Follow WhatsApp Channel zulnas.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dana Darurat, Integritas Darurat: Ujian Bersih-Bersih Pemerintahan Batubara
Pusaran Korupsi BTT 2022 Melebar, Kejari Batubara Tahan Kadis Kesehatan
Mandi Balimau Meriah, Budaya Melayu Batubara Hidup dan Gerakkan Ekonomi
Kejaksaan Negeri Batubara Musnahkan Barang Bukti 99 Perkara
Singapore Land Batubara Berbagi Berkah Sambut Ramadhan 1447 H, Anak Yatim dan Dhuafa Terima Sembako
Menjawab Keluhan Petani, Bupati Batubara Turun Tangan Hempang Sungai Ramunia
Sawah Mengering, Suara Petani di Batubara Menunggu Tindakan
Menghitung Hari Bersama Baharuddin Siagian

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:45 WIB

Dana Darurat, Integritas Darurat: Ujian Bersih-Bersih Pemerintahan Batubara

Kamis, 19 Februari 2026 - 21:33 WIB

Pusaran Korupsi BTT 2022 Melebar, Kejari Batubara Tahan Kadis Kesehatan

Rabu, 18 Februari 2026 - 21:47 WIB

Mandi Balimau Meriah, Budaya Melayu Batubara Hidup dan Gerakkan Ekonomi

Rabu, 18 Februari 2026 - 21:39 WIB

Kejaksaan Negeri Batubara Musnahkan Barang Bukti 99 Perkara

Senin, 16 Februari 2026 - 12:10 WIB

Singapore Land Batubara Berbagi Berkah Sambut Ramadhan 1447 H, Anak Yatim dan Dhuafa Terima Sembako

Berita Terbaru

LABUHANBATU

Bupati Tekankan Standar Gizi pada Program MBG di Labuhanbatu

Selasa, 24 Feb 2026 - 12:18 WIB

LABUHANBATU

Bupati Labuhanbatu Tegaskan SPPG Jaga Kualitas MBG

Senin, 23 Feb 2026 - 13:11 WIB

LABUHANBATU

Keutamaan Sholat Tarawih, Cahaya Malam Ramadhan yang Menyentuh Hati

Minggu, 22 Feb 2026 - 23:17 WIB