Zulnas.com, Batubara — Tradisi mandi balimau kembali digelar meriah sebagai penanda menyambut bulan suci Ramadan. Prosesi sakral ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga penegasan komitmen pelestarian budaya Melayu di Kabupaten Batubara.
Mandi balimau merupakan tradisi membersihkan diri menggunakan air bercampur limau dan rempah pilihan. Ritual ini dimaknai sebagai ikhtiar penyucian lahir dan batin agar masyarakat memasuki Ramadan dalam keadaan bersih, segar, dan penuh kesiapan spiritual.
Bupati Batubara, Baharuddin Siagian, menegaskan pentingnya menjaga tradisi sebagai warisan identitas daerah. Menurutnya, budaya lokal tidak boleh tergerus zaman dan harus terus diwariskan kepada generasi mendatang.
“Tradisi adalah akar. Jika akar kuat, pohon peradaban akan tetap berdiri kokoh,” tegasnya di sela kegiatan.
Prosesi mandi balimau berlangsung khidmat sekaligus semarak. Unsur pemerintah daerah, perwakilan BUMN dan perbankan, pimpinan lembaga daerah, tokoh adat, serta masyarakat turut hadir.
Seluruh tamu dan warga yang mengikuti prosesi diguyur air wewangian sebagai simbol pembersihan diri. Warga juga membawa pulang air balimau dan menerima pembagian daging sebagai bagian dari tradisi kebersamaan.
Kepala Bank Sumut Cabang Lima Puluh, Teddy Pribadie, mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang konsisten menjaga identitas budaya Melayu Batubara. Kemudian, pihaknya menegaskan komitmen untuk mendukung program pelestarian budaya yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Selain balimau, Pemerintah Kabupaten Batubara juga terus merawat tradisi pesta tapai yang digelar sebulan penuh di Desa Dahari Selebar. Warga menjajakan lemang dan tapai khas daerah, menjadikan kegiatan ini bukan hanya ajang budaya, tetapi juga ruang perputaran ekonomi lokal.
Data pelaksanaan pesta tapai mencatat transaksi mencapai Rp5,892 miliar selama 28 hari. Rata-rata perputaran harian sekitar Rp210 juta dari 266 tenan. Angka ini menunjukkan bahwa tradisi budaya mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat secara nyata.
Tak hanya itu, tradisi ‘mogang’ atau makan daging bersama dengan duduk bersila di atas tikar juga tetap dilestarikan. Kegiatan ini memperkuat nilai kebersamaan, solidaritas sosial, dan semangat gotong royong masyarakat Melayu Batubara.
Rangkaian tradisi menyambut Ramadan ini memperlihatkan bahwa budaya bukan sekadar seremoni, melainkan kekuatan sosial dan ekonomi yang hidup di tengah masyarakat. Di Batubara, warisan leluhur tetap terjaga, sekaligus bergerak seiring pembangunan daerah. (Ril).












