Zulnas.com, Batubara — Sore itu, angin dari Selat Malaka berhembus pelan menyapu deretan kafe kopi di sepanjang jalan utama Kecamatan Tanjung Tiram. Di meja-meja pelastik sederhana, obrolan mengalir santai tentang harga ikan, cuaca laut, hingga peluang usaha.
Cangkir-cangkir kopi hitam mengepul, menjadi saksi bagaimana denyut ekonomi perlahan bangkit dari pesisir ini.
Beberapa tahun lalu, wajah Tanjung Tiram masih didominasi aktivitas nelayan tradisional. Laut adalah pusat kehidupan. Pagi hari dipenuhi hiruk-pikuk bongkar muat ikan, sementara sore hari terasa lebih lengang.
Ketika malam, suasananya mulai berubah. Kadai kopi dan pelaku UMKM tumbuh menjamur disepanjang jalan merdeka, menghadirkan warna baru dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Berdadarkan Data BPS Kabupaten Batubara Tahun 2024, Dengan jumlah penduduk mencapai 40.365 jiwa yang terdiri dari 20.766 laki-laki dan 19.599 perempuan, serta 11.770 kepala keluarga, Tanjung Tiram menyimpan potensi pasar yang cukup besar.
Ditambah lagi, karakter masyarakat pesisir yang terbuka terhadap interaksi sosial menjadikan kafe yang menyajikan berbagai jenis menu kopi bukan hanya sekadar tempat minum, tetapi ruang pertemuan, diskusi, nyantai bahkan transaksi ekonomi.
Di salah satu sudut kecamatan, sebuah kafe kecil berjejer berdiri menghadap laut. Tepatnya tak lain pelabuhan Tanjung Tiram. Pemiliknya, seorang pemuda lokal, dulunya adalah anak nelayan. Kini ia meracik kopi sambil melayani pelanggan yang datang silih berganti. “Dulu kami hanya bergantung pada laut. Sekarang, kopi juga jadi sumber penghasilan,” katanya sambil tersenyum.
Pertumbuhan kafe kopi ini berjalan seiring dengan geliat UMKM yang mulai membanjiri lapak jalan sepanjang jalan merdeka. Menu yang disajikan, mulai dari olahan hasil laut seperti ikan, ciput tumpah, hingga produk makanan ringan khas pesisir, semuanya mulai dikemas lebih modern dan dipasarkan lebih luas.
Beberapa pelaku usaha bahkan memanfaatkan media sosial untuk menjangkau konsumen di luar daerah. Bahkan tidak jarang konsumen yang datang dari berbagai kecamatan hanya untuk menikmati menu UMKM di kota Tanjung Tiram dan sekitarnya.
Tak bisa dipungkiri, keberadaan Selat Malaka menjadi faktor kunci dalam transformasi ekonomi Tanjung Tiram. Selat ini bukan hanya jalur pelayaran internasional tersibuk, tetapi juga sumber daya alam yang kaya. Perairannya menyimpan potensi perikanan yang melimpah, dari ikan tangkap, udang, hingga hasil laut lainnya yang bernilai ekonomis tinggi.

Namun, potensi besar itu baru akan berdampak maksimal jika dikelola dengan baik. Tidak tertutup kemungkinan hal tersebut juga menjadi salah satu upaya masyatakat Batubara untuk memperjuangkan otonomi daerah tingkat propinsi Sumatera Pantai Timur.
Selama ini, sebagian hasil tangkapan masih dijual dalam bentuk mentah, dengan nilai tambah yang relatif rendah. Di sinilah peran UMKM menjadi penting. Pengolahan hasil perikanan menjadi produk jadi membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.
Beberapa kelompok nelayan mulai beralih ke pola usaha terpadu tidak hanya menangkap ikan, tetapi juga mengolah dan memasarkannya. Dengan harapan dapat dukungan pelatihan dan akses pasar, mereka perlahan naik kelas dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pelaku usaha mandiri, mungkin inilah bagian dari harapan mereka.
Kehadiran kadai kopi pun memperkuat ekosistem ini. Banyak kafe yang mulai menyajikan menu berbasis hasil laut lokal, menciptakan rantai ekonomi yang saling terhubung. Nelayan menjual hasil tangkapannya, UMKM mengolahnya, dan kafe menjadi etalase bagi produk-produk tersebut.
Belakangan, geliat ekonomi di kecamatan Tanjung Tiram berkembang pesat hingga naik ke arah kelurahan labuhanruku Kecamatan Talawi.
Perkembangan itu tidak terjadi begitu saja, tetapi hal itu membuktikan geliat ekonomi meningkat sehingga potensi itu menjadi momentum bagi pengusaha lokal dan pengusaha dari luarnya.
Di tengah perubahan ini, Tanjung Tiram menunjukkan bahwa ekonomi pesisir tidak stagnan. Dengan kreativitas dan keberanian beradaptasi, masyarakat mampu menciptakan peluang baru tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Langit mulai gelap, lampu-lampu kafe menyala, dan suara ombak terdengar lebih jelas. Di balik kesederhanaannya, Tanjung Tiram sedang menulis cerita baru tentang kopi, laut, dan harapan yang tumbuh perlahan di tepi Selat Malaka.
Sekarang kita tinggal berdoa, semoga Sumatera Pantai Timur segera terwujud, dan berpisah dari Propinsi Sumatera Utara. Semoga. ****Zn












