Menelusuri Jejak Tanjung Limaupurut di Batubara (Bagian Ke 2)

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 28 November 2021 - 11:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zulnas.com, Batubara — Siang kian matang. Matahari mulai mendekat vertikal ke ubun-ubun. Kami yang sedari pagi telah berada di lokasi permakaman bersejarah Kedatukan Tanjung Limaupurut, mulai terasa jerih.

Berempat, Tim Kilas8 istirahat, sejenak pada hamparan rumput nan berpasir di bawah bebatangan sawit. Tanaman palma jenis itu, memang terdapat banyak di areal situs penting yang turut mewarnai denyut peradaban di bibiir Selat Malaka itu. Entah siapa yang menanamnya. Tapi tak guna hirau.

Penat beringsut. Bebarangan telah pula ada yang dikemas. Tapi, seseorang lain ada tak jauh dari tempat kami. Ia di datangi. Saat disapa ia menjawab dalam Bahasa Melayu, namun dialek Tapanuli mengesan jua.

Dari dia lah kami mendapat informasi, bahwa terdapat makam-makam lain berada pada kawasan lain. Kami. mengikuti arah yang ditunjuknya. Dan, ia benar.

Namun, kondisi permakaman tersebut, nyaris sama dengan yang lebih dahulu kami datangi. Kesannya,Tak terawat baik.

Baca Juga :  Sambut Hari Bhakti Adhyaksa ke-62, Kejari Resmikan 7 Rumah RJ di Batubara

Baca Juga : Menelusuri Jejak Tanjung Limaupurut di Batubara (Bagian Ke 1)

Dalam salah suatu catatan yang ada, keberadaan Kedatukan Tanjung Limapurut nan bersejarah itu, diterakan pada rentang pertengahan abad XVIII.  Begitupun, terdapat pula tulisan lain memaparkan bahwa eksistensinya bertemali dengan Perang Padri pada awal-awal abad XIX. Terbilang tua, memang.

Pada kurun yang terbilang panjang tersebut, tentulah banyak hal yang terjadi. Dari generasi ke generasi kisah-kisah mengenai kedatukan yang dibina Datuk Umar Palangki itu tertuturkan jua. Sebagian disampaikan dari mulut ke mulut, pun begitu, adapula yang menorehkannya dalam naskah-naskah tersendiri

Diantara sejarah yang terpahat dari masa lalu, masih bertahan dalam kenangan anak Melayu tempatan perihal mangkatnya salah seorang pemangku kedatukan ratusan tahun silam. Ia kini bersemayam abadi di pusaranya, pada kawasan yang agak berbukit dalam wilayah Simalungun, berdekatan dengan bagian hulu Sungai Tanjung.

Baca Juga :  Agar Kuat, KTNA Perlu Diberdayakan didaerah

Terdapat kesamaan pada sejumlah catatan yang ditemukan. Bahwa jasad yang dimakamkan berdekatan dengan tepi sungai itu, adalah pemangku kedatukan ke-tiga Tanjung Limaupurut

Ada yang menuliskan namanya Orang Kaya Mamat, Datuk Mamat. Namun, dalam pohon silsilah keluarga besar kedatukan, ia disebut sebagai Datuk Momat.

Ada yang meyakini sebagai anak, ada pula yang justru sebagai adik daripada pemangku ke-dua yaitu Datuk Mat Janggut (ipar Datuk Umar Palangki)

Kesamaan lainnya, beliau terbunuh. Motif nya sahaja yang berbeza.

Seperti,faktor politik kolonialis Belanda. Juga tersebut perihal perang yang dilatarbelakangi faktor ekonomis soal pemungutan cukai. Untuk alasan ke-dua itu sang pemangku diterakan wafatnya pada 1843.

Memang kematian dramatik salah seorang pemangku itu telah berabad-abad Namun, tak bisa ditepis jua, ia masih jadi ingatan generasi keluarga besar Kedatukan Tanjung Limaupurut. Dari dulu, hingga kini. Dan mungkin, tak terlupakan. ***Kindra

Follow WhatsApp Channel zulnas.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Soal Lahan Cabai Banjir, DPRD Batubara Desak Penanganan, PSDA Perintahkan Rekayasa Aliran
Datuk Kedatukan Lima Puluh Klaim Punya Bukti Hak Ulayat Sebelum HGU Terbit, Siap Buka Dokumen ke Publik
Menelusuri Jejak Panjang PT Socfindo Tanah Gambus: Dari Perkebunan Kolonial hingga Industri Sawit di Batubara
MAPEL Dorong Satgas Lingkungan dan Evaluasi Pemilik HGU di Batubara
150 Hektare Lahan Cabai Terendam, Petani Gambus Laut Terancam Gagal Panen Diduga Akibat Pengalihan Aliran Sungai
Menelusuri Jejak HGU Perkebunan di Kabupaten Batubara (I)
Mampukah Pansus Plasma 20 Persen Di Implementasikan?
Prof O.K. Saidin: Plasma Harus Jadikan Masyarakat Mitra, Bukan Sekadar Penonton

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:05 WIB

Soal Lahan Cabai Banjir, DPRD Batubara Desak Penanganan, PSDA Perintahkan Rekayasa Aliran

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Datuk Kedatukan Lima Puluh Klaim Punya Bukti Hak Ulayat Sebelum HGU Terbit, Siap Buka Dokumen ke Publik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 10:42 WIB

Menelusuri Jejak Panjang PT Socfindo Tanah Gambus: Dari Perkebunan Kolonial hingga Industri Sawit di Batubara

Jumat, 7 Agustus 2026 - 08:42 WIB

MAPEL Dorong Satgas Lingkungan dan Evaluasi Pemilik HGU di Batubara

Kamis, 6 Agustus 2026 - 20:52 WIB

150 Hektare Lahan Cabai Terendam, Petani Gambus Laut Terancam Gagal Panen Diduga Akibat Pengalihan Aliran Sungai

Berita Terbaru

LABUHANBATU

Di Balik Gerobak Sederhana,Ada Hati Ibu yang Tak Pernah Menyerah

Sabtu, 8 Agu 2026 - 13:00 WIB

LABUHANBATU

Bupati Dan Kapolres Labusel Dukung PWI Perkuat Informasi Publik

Jumat, 7 Agu 2026 - 22:23 WIB