Zulnas.com, Batubara — Di tepian Pantai Sejarah yang berpasir putih, di bawah langit yang membiru dan angin pesisir yang berbisik pelan, masyarakat Kabupaten Batubara kembali menghidupkan tradisi turun-temurun: Mandi Belimau.
Tradisi ini, yang telah berakar sejak ratusan tahun silam, bukan sekadar ritual, tetapi wujud syukur dan penyucian diri dalam menyongsong bulan suci Ramadhan.
Pada Selasa (25/02/2025), Wakil Bupati Batubara, Syafrizal, SE, M.AP, dengan penuh takzim mengikuti prosesi adat ini, mewakili Bupati H. Baharuddin Siagian, SH, M.Si. Bersama Sekretaris Daerah Norma Deli Siregar dan rombongan, ia menyatu dengan masyarakat, meresapi makna yang mendalam dari tradisi leluhur ini.
Acara dimulai dengan Tari Persembahan, gerak yang lembut namun penuh makna sebagai tanda hormat kepada para tamu yang hadir. Lalu, derap langkah dan gerakan khas Pencak Silat Melayu mewarnai pembukaan, menampilkan ketangkasan dan keteguhan budaya yang tetap lestari.
Tak hanya sekadar ritual pembersihan diri, tradisi ini juga disertai Kenduri Mogang, sebuah warisan budaya yang berasal dari Aceh dengan sebutan Meugang.
Dalam tradisi ini, hewan disembelih, lalu dagingnya dibagikan kepada masyarakat sekitar, sebagai lambang kebersamaan dan keberkahan.

Tak lupa, santunan diberikan kepada anak yatim-piatu, meneguhkan nilai kepedulian yang menjadi jantung dari ajaran Islam.
Buyung Morna, seorang budayawan yang hadir dalam acara, mengisahkan bahwa tradisi Mogang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Kabupaten Batubara sejak tahun 1728 Masehi.
Buyung mengingatkan bahwa tradisi ini lebih dari sekadar seremonial; ini adalah jati diri, warisan yang harus dijaga agar tak lekang dimakan zaman.
Pada puncak acara, Wakil Bupati Syafrizal, Sekda Norma Deli Siregar, Ketua TP PKK Batubara Ny. Henny Heridawaty Pohan, serta Ketua Bidang 1 TP PKK Ny. Leli menjalani prosesi Mandi Belimau.

Dengan siraman air bercampur jeruk purut dan wewangian alami, Ketua PD Al-Washliyah Ustadz Al Asari dan Ketua MUI Ustadz Hidayat memimpin ritual penyucian.
Wabup Syafrizal pun menuturkan, Mandi Belimau bukan sekadar membasuh raga, tetapi juga membersihkan hati dan jiwa. Dengan tubuh yang segar dan jiwa yang bersih, umat Muslim di Batubara menyambut Ramadhan dengan ketawadukan dan kekhusyukan.
Pantai Sejarah hari itu bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi menjadi saksi bisu bagaimana tradisi yang telah berabad-abad tetap hidup di tengah modernitas.
Dalam hembusan angin laut yang membawa aroma rempah dan bunga, dalam gemuruh ombak yang seakan ikut berzikir, Batubara kembali membuktikan bahwa budaya dan spiritualitas bisa berjalan seiring, melintasi waktu dan generasi. (Dan).