Zulnas.com, Batubara — Indonesia pernah mencetuskan sistem ekonomi Alibaba di era perdana menteri Ali Sastroamidjojo. Ali pengusaha pribumi bermitra dengan baba non pribumi.
Sistem ekonomi Ali baba era 50 an dimanfaatkan baba untuk mengeruk kas negara melalui Ali pengusaha pribumi yang memiliki hubungan darah dengan penguasa.
Sistem ekonomi yang telah dihapus itu masih saja tetap bertahan hingga sekarang ini. Kemampuan para taipan memanfaatkan celah yang ada menjadikan sistem ini dicontoh para penguasa yang tetap ingin jadi pengusaha.
Secara resmi saham dan tender proyek dilakukan Ali namun secara riil bisnis tetap dikendalikan baba.
Kemarin pun seperti itu, Ali bermata sipit memasang lukah dibanyak proyek milyaran sementara para orator perjuangan pemekaran kabupaten dan pengusung setia pilkada diberi rimah sebagai lap keringat perjuangan.
Bukan Ali yang memberi ke baba walaupun Ali yang menerima proyek, tetapi baba lah yang memberi Ali sekitar 20 persen dari laba. Begitulah yang terjadi atas bangunan kayu perkantoran perupuk?
Berulang, tapi kali ini Ali tidaklah sesipit yang lalu, tapi prilakunya setali tiga uang. Ali yang jadi pangeran proyek, menentukan siapa yang mendapat rimah, sedangkan proyek besar so pasti itu milik Ali sang pangeran yang akan diracip dengan sang baba.
Tak ada yang berubah walau teriak “merdeka” yang dikumandangkan disetiap hari kemerdekaan. Kabinet Ali Sastroamidjojo yang akan membangkitkan rakyat pribumi pada akhirnya memunculkan Ali baba.
Begitulah baba si pengusaha tak akan kehabisan akal meraup pundi. Buatlah berlapis peraturan dan hukuman penjera Baba jauh lebih tahu mana peraturan yang bisa diretas atau pemegang palu diajak bersama menyembunyikan makanan baba di perangkat daerah.
Para Ali di perangkat daerah inipun akan jauh lebih lihai tapi sang baba belum percaya sebelum dimandikan berpindah di tujuh kolam. Untuk sementara Ali sekasur, sesumur inilah brankas andalan untuk champion akan datang.
Sementara para “Kasim” abdi dalam ini akan dapat bagian yang membesar ketika fajar telah menjelang.
Dimanakah rakyat? Baik rakyat dalam “R” kapital maupun “r” dalam huruf kecil Akan gembira tak ketulungan apabila disapa dan diberi “janji “.
Urusan rakyat itu urusan pilkada, masih jauh “ujar Jhon adek ketika ditanya tentang rakyat. ***Et