Zulnas.com, Labuhanbatu — Refleksi mendalam muncul setelah menonton kartun Katuri. Namun yang sesungguhnya disorot bukan sekadar isi tontonan anak, melainkan perubahan cara pandang terhadap pengasuhan itu sendiri.
Kartun tersebut menjadi cermin yang diam-diam memperlihatkan sisi orang tua tentang ekspektasi, emosi, dan ritme hidup yang kerap tidak selaras dengan dunia anak.
Pada awalnya, sering muncul anggapan bahwa anak terlalu aktif, terlalu banyak mau, atau terlalu lambat memahami sesuatu. Anak tampak mengulang kesalahan yang sama, tidak segera mengerti, dan membutuhkan waktu lama untuk menenangkan diri.
Situasi-situasi itu kerap memancing kekesalan. Namun setelah merenung, muncul satu kesadaran yang jujur sekaligus menohok: yang sering “naik” bukanlah perilaku anak, melainkan frustrasi diri sendiri. Keletihan, tekanan, dan keinginan agar segala sesuatu cepat selesai membuat emosi menjadi tegang dan kesabaran menipis.
Bukan anak yang berlebihan mungkin kitalah yang terlalu terburu-buru.
Katuri menghadirkan pesan sederhana namun kuat: anak tidak harus efisien. Mereka tidak dituntut untuk cepat paham, cepat berubah, atau cepat menuruti arahan. Anak hidup dalam ritme yang berbeda dari orang dewasa.
Tubuh mereka butuh waktu untuk bertumbuh. Emosi mereka butuh ruang untuk dipahami. Pikiran mereka belum siap dipaksa mengikuti logika orang dewasa yang serba cepat dan serba hasil.
Yang mereka butuhkan bukan tekanan, melainkan rasa aman.
Aman untuk mencoba tanpa takut disalahkan.
Aman untuk keliru tanpa dipermalukan.
Aman untuk belajar dari akibat tanpa diteriaki. Dalam suasana yang aman, anak belajar sebab-akibat secara alami. Empati tumbuh bukan karena perintah, tetapi karena pengalaman.
Di sana, alam bukan sekadar latar cerita ia menjadi guru yang sabar, tidak tergesa-gesa, dan tidak menuntut hasil instan. Anak lebih mudah tenang ketika orang tuanya tidak sibuk mengontrol.
Ketenangan anak sangat dipengaruhi oleh kestabilan emosi orang tua. Saat orang tua tidak tergesa-gesa, tidak tegang, dan tidak memaksakan kesempurnaan, anak merasa diterima apa adanya.
Dari situlah lahir kesadaran sederhana namun mendalam: mungkin selama ini yang perlu diperlambat bukanlah anak, melainkan diri kita sendiri.
Pengasuhan ternyata bukan semata proses membentuk anak agar cepat berubah. Ia adalah perjalanan orang tua untuk belajar mengelola diri menurunkan ekspektasi, meredakan tekanan, dan memberi ruang pada proses tumbuh yang alami.
Pengasuhan yang sehat dimulai ketika orang tua berani bercermin, mengakui keterbatasannya, dan memilih untuk hadir dengan lebih tenang. Sebab anak tidak lambat. Kitalah yang sering terlalu terburu-buru. (Ce ha).












