“Ketika Laut Tak Lagi Bersahabat”

- Jurnalis

Sabtu, 21 September 2024 - 18:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zulnas.com, Batubara — Malam itu, angin laut tidak sekadar membisikkan gelisah. Ia datang dengan suara berat dan langkah lambat, menyelinap pelan-pelan dari bibir pantai menuju pemukiman, membawa serta gelombang yang tak biasa.

Warga Desa Bandar Rahmat dan Kelurahan Bagan Area, Kecamatan Tanjung Tiram, tidak segera menyadari bahwa laut yang sehari-hari mereka tatap dengan syukur, malam itu sedang mempersiapkan ‘kemurkaan’.

Di rumah-rumah kayu dan dinding semu beton, anak-anak tertidur lelap, para orang tua baru saja memejamkan mata, dan beberapa yang lain masih berjaga di musala dan masjid. Tetapi sekitar pukul sembilan malam, langkah laut menampakkan wajahnya. Air asin mulai menapaki teras rumah, menyusup ke celah pintu, dan menggenangi ubin yang belum sempat kering dari pel lantai sore tadi.

Gelombang tak menggulung tinggi, tapi ia merayap dalam senyap, meninggalkan jejak yang lebih menakutkan yaitu kepanikan.

Masjid tua di Bandar Rahmat yang selama ini menjadi tempat pulang bagi jiwa-jiwa yang mencari teduh tak luput dari amukan laut. Air masuk hingga ke ruang utama. Sejadah terendam, mukena basah, dan kitab suci harus segera diamankan.

Baca Juga :  Pilkada 2024, Golkar Batubara Buka Pendaftaran Bacalon Bupati dan Wakil

Suf Miswan, Kepala Desa setempat, berdiri tertegun di depan mihrab yang kini digenangi air laut. “Ini bukan lagi hanya bencana, ini peringatan,” katanya lirih, seakan berbicara pada dirinya sendiri.

Di Kelurahan Bagan Area, keadaan tak jauh berbeda. sang lurah, menyaksikan warga bergegas membawa anak-anak dan barang seadanya keluar dari rumah. Jalan-jalan kampung menjadi danau sementara.

Di beberapa titik, genangan mencapai lutut orang dewasa. Gema azan yang biasa memanggil hati, malam itu digantikan oleh suara deru ombak dan jerit ketakutan anak-anak.

Dilokasi yang berbeda, di Desa Medang, Kecamatan Medang Deras, laut juga menunjukkan wajah serupa. Lima dusun dilanda kecemasan yang sama. Dusun Tangkahan, Teluk Baru, Bunga Tanjung, Kuala Sipare, dan Pematang Eru, semuanya dikepung oleh air asin yang menjelma menjadi kabar buruk.

Luqman, kepala desa, mencatat satu demi satu rumah yang terendam. Tujuh puluh? Seratus? Ternyata lebih: seratus tujuh puluh rumah, ditambah satu masjid yang kini hanya bisa dikenang dari foto-foto di dinding.

Banjir rob bukan hanya soal air yang datang dan pergi. Ia membawa serta hening yang membekas, dan kehilangan yang tak terhitung. Aktivitas belajar di sekolah-sekolah berhenti. Warung kopi tutup. Pasar desa senyap. Tak ada celoteh ibu-ibu di warung beras. Tak terdengar lagi suara bocah bermain gundu atau menendang bola plastik. Semua larut dalam satu kata: mengungsi.

Baca Juga :  Optimalkan Layanan, Radiansyah Pagi di Kantor Satpol PP, Siang Dikantor Capil

Tapi yang paling menyayat adalah wajah anak-anak yang menatap rumahnya dari kejauhan. Mereka tidak tahu harus ke mana, hanya tahu bahwa tempat tidurnya basah, bukunya mengapung, dan sepatu sekolahnya telah hanyut.

Kini, air mungkin mulai surut. Matahari kembali muncul dari balik awan. Tapi luka-luka kecil itu masih menetap di hati. Masjid harus dibersihkan, rumah harus dikeringkan, dan semangat harus dikumpulkan kembali. Warga bekerja bahu-membahu, membersihkan lantai, menjemur barang, dan menyeka air mata yang kadang jatuh diam-diam.

Mereka menanti bukan sekadar bantuan logistik atau tenda pengungsian, tetapi perhatian yang tulus dari negara. Mereka butuh tanggul, sistem peringatan dini, dan kebijakan yang tidak hanya datang setelah bencana lewat.

Di pesisir Batubara, hidup adalah perjanjian abadi dengan laut. Tetapi malam itu, bak laut melanggar janjinya. ***Dan

Follow WhatsApp Channel zulnas.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Plt Direktur PDAM Tirta Tanjung Sampaikan Klarifikasi Terkait Kondisi Perusahaan
Baharuddin Siagian Pimpin Rakor Bentuk Tim Terpadu Penyelesaian Konflik Agraria
MV Star Voyager Bawa Ribuan Turis Mancanegara di Awal 2026 di Batubara
Sempat Bentrok, Ratusan Warga Poktan Perjuangan Duduki Lahan PT Socfindo Tanah Gambus, Wabup Beri Tenggat 1 Minggu
Di Ujung Tahun, Kertas Bernama SK Itu Mengubah Segalanya
PB GEMKARA Santuni Keluarga Pejuang Pemekaran, Air Mata Haru Warnai Peringatan HUT ke-19 Batubara
PB Gemkara Desak Presiden Prabowo Ambil Alih Eks HGU PT Socfindo Tanah Gambus
Tokoh Pemuda Apresiasi Penunjukan Zulkarnain Achmad sebagai Plt Direktur PDAM Tirta Tanjung
Berita ini 62 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 17:41 WIB

Plt Direktur PDAM Tirta Tanjung Sampaikan Klarifikasi Terkait Kondisi Perusahaan

Rabu, 14 Januari 2026 - 11:53 WIB

Baharuddin Siagian Pimpin Rakor Bentuk Tim Terpadu Penyelesaian Konflik Agraria

Senin, 12 Januari 2026 - 15:53 WIB

MV Star Voyager Bawa Ribuan Turis Mancanegara di Awal 2026 di Batubara

Selasa, 6 Januari 2026 - 20:24 WIB

Sempat Bentrok, Ratusan Warga Poktan Perjuangan Duduki Lahan PT Socfindo Tanah Gambus, Wabup Beri Tenggat 1 Minggu

Minggu, 4 Januari 2026 - 00:55 WIB

Di Ujung Tahun, Kertas Bernama SK Itu Mengubah Segalanya

Berita Terbaru

LABUHANBATU

Sekda Dorong Penguatan Organisasi BPBD dan Budaya Gotong Royong

Rabu, 21 Jan 2026 - 10:05 WIB