Zulnas.com, Batubara —
Tidak ada teriakan.
Tidak pula pesta yang berlebihan.
Rabu, 31 Desember 2025, halaman Kantor Bupati Batubara hanya dipenuhi barisan rapi Aparatur Sipil Negara. Namun, di antara seragam yang sama, ada getar yang berbeda getar bahagia yang sulit disembunyikan.
Selembar kertas itu bernama Surat Keputusan, ya SK. Bagi sebagian orang, ia hanyalah dokumen administratif.
Namun bagi ribuan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang menerimanya hari itu, SK adalah titik balik hidup.
Ada yang memegangnya dengan dua tangan. Ada yang menyelipkannya hati-hati ke dalam map.
Ada pula yang sekadar menatapnya lama, seolah tak percaya bahwa penantian bertahun-tahun akhirnya selesai.
Usai apel, halaman itu tak langsung kosong. Beberapa penerima SK berdiri di sudut-sudut halaman, mengeluarkan ponsel, meminta tolong rekan kerja untuk memotret mereka. Bukan untuk pamer. Bukan pula untuk gaduh. Tapi mungkin mereka ingin mengabadikan momen spesial itu di beranda medsos, hingga menjadi kenangan, mungkin gak berlebihan.
Hanya ingin menyimpan momen.
Di Facebook dan TikTok, foto-foto itu perlahan bermunculan diberanda meraka. Wajah-wajah sederhana dengan senyum yang jujur. SK di tangan, seragam rapi, latar kantor bupati.
Tak ada caption panjang. Tak ada kata-kata besar.
“Alhamdulillah, penantian itu ada akhirnya.”
“Terima kasih Ya Allah.”
“Bismillah, amanah baru.”
Kalimatnya pendek.
Namun maknanya panjang.
Baca Juga : Ketika Dewan Tak Lagi Bisa Diandalkan
Bagi mereka, SK itu bukan hanya tentang status pekerjaan.
Ia adalah jawaban atas doa orang tua.
Ia adalah kepastian bagi keluarga.
Ia adalah alasan untuk pulang ke rumah dengan kepala lebih tegak.
Ada yang telah belasan tahun mengabdi sebagai tenaga honorer.
Ada yang sabar menunggu tanpa tahu kapan akan diakui.
Ada pula yang hampir menyerah, namun tetap datang bekerja setiap pagi.
Hari itu, di ujung tahun, negara akhirnya mengetuk pintu mereka.
Yang paling menyentuh bukanlah jumlah penerima SK. Melainkan cara mereka merayakannya.
Tidak dengan pesta.
Tidak dengan hiruk-pikuk.
Cukup dengan sebuah foto.
Cukup dengan sebuah unggahan.
Cukup dengan senyum yang tidak dibuat-buat.
Di balik unggahan itu, ada kisah tentang anak yang akan lebih tenang bersekolah.
Tentang orang tua yang bisa sedikit bernapas lega.
Tentang masa depan yang tak lagi sekadar harapan.
SK itu tidak berbunyi.
Tidak bersuara keras.
Namun bagi para penerimanya, ia berbicara paling lantang;
“Kamu telah diakui. Kamu dibutuhkan. Dan kini, kamu dipercaya.”
Menutup tahun 2025, Batubara tidak sekadar menyerahkan SK.
Ia menyerahkan harapan dalam bentuk paling sederhana, namun paling bermakna. Tegline Bahagia itu terlihat diraut wajah bupati Batubara. ***












