Cerita di Balik Tiga Pengunduran Diri Pejabat Batubara

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 25 April 2025 - 23:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zulnas.com, Batubara — Dalam dunia birokrasi, sebuah kursi jabatan bisa tampak megah dari luar. Tapi tak banyak yang tahu betapa dinamis dan kadang berat—beban yang harus dipikul oleh orang yang duduk di sana.

Itulah yang mungkin dirasakan oleh tiga pejabat eselon II Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, yang dalam waktu berdekatan memilih mundur dari jabatannya.

Kurnia Lismawatie, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR); Rijali, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD); serta Lendi Aprianto, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), adalah nama-nama yang cukup dikenal publik di Batubara.

Baca : “Di Ujung Masa Jabatan, Pj Bupati Batubara Menuai Tanya”

Mereka memimpin OPD yang strategis, menjadi penggerak utama pembangunan infrastruktur, pengelolaan keuangan daerah, dan penataan kawasan permukiman. Namun pada April 2025, ketiganya memilih jalan yang sama mundur teratur alias mengundurkan diri.

Alasan Pribadi: Klise, Tapi Masuk Akal

Bagi sebagian orang, alasan yang disampaikan ketiganya mungkin terdengar klise. Kurnia menyebut dirinya sudah non job usai menyerahkan surat pengunduran diri ke Bupati Batubara Baharuddin Siagian.

Rijali ingin merawat orang tua yang tinggal sendiri di Tebing Tinggi. Sementara Lendi memilih fokus mengurus anak-anaknya yang masih kecil.

Baca : “Aroma ‘Ikan Busuk’ di Balik Pelantikan Pejabat: Kritik untuk Kebijakan Pj Bupati Batubara”

Namun justru di balik alasan-alasan yang terdengar sederhana itulah, kita melihat sisi manusiawi dari birokrasi. Pejabat bukan robot yang hanya bekerja mengikuti perintah sistem.

Mereka adalah individu dengan kehidupan pribadi, keluarga, dan beban emosional yang tak selalu tampak dari balik meja kerja.

Baca Juga :  Bapenda Batubara Jemput Bola Pajak Daerah, Dukung Program Unggulan “Berlayar” Bupati

Tapi seperti biasa, di sela-sela situasi ini, muncul juga puak-puak labu yang gemar “nanya-nanya sok tahu” di warung kopi, di grup WhatsApp, atau bisik-bisik kantor.

Baca : Bupati Bahar Curhat dan Sindir Kinerja Birokrasi

Mereka merangkai teori konspirasi, membuat narasi seolah-olah ada drama besar di balik pengunduran diri tersebut. Padahal seringkali, mereka tak tahu apa-apa kecuali apa yang ingin mereka percayai dan mereka gali dari si sumber informasi.

Fenomena puak labu ini memang khas dalam budaya birokrasi lokal. suara-suara tanpa dasar yang lebih suka berasumsi daripada memahami.

Mereka tak tahu beban jabatan, tapi merasa berhak mengomentari setiap langkah pejabat. Sementara mereka yang benar-benar paham, memilih diam dan bekerja.

Fenomena yang Lazim, Bukan Luar Biasa

Pengunduran diri pejabat di tengah perubahan kepemimpinan atau pergantian arah kebijakan bukanlah hal aneh. Di banyak daerah lain di Indonesia, dinamika serupa terjadi.

Di Kabupaten Asahan, misalnya, pasca pelantikan bupati baru, hampir seluruh jabatan eselon II langsung dilelang. Sementara di tingkat provinsi, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution bahkan mencopot sejumlah pejabat sebelum melakukan seleksi ulang.

Baca : “DPRD Batubara Kritik Kebijakan Pj Bupati: Pelantikan Pejabat Dinilai Abaikan Etika Pemerintahan”

Artinya, mundurnya pejabat bukan selalu cermin dari konflik atau ketidakberesan. Kadang, ini justru bagian dari penyegaran. Atau bentuk kejujuran birokrat yang merasa sudah tak sejalan dengan arah baru pemerintahan.

Baca Juga :  Joging Track Di Taman Lima Puluh Kota Berlubang Parah

Transisi Kepemimpinan dan Loyalitas Sistemik

Bupati Batubara Baharuddin Siagian adalah figur baru yang tentu membawa cara pandang baru. Di sistem birokrasi Indonesia, sangat lumrah jika pergantian kepala daerah diikuti dengan rotasi jabatan.

Loyalitas bukan hanya pada individu, tapi juga pada sistem dan arah kebijakan. Ketika merasa tak lagi cocok dengan ritme baru, mundur bisa jadi pilihan elegan, ketimbang bertahan dalam ketidakharmonisan.

Mengundurkan Diri Bukan Tanda Gagal

Dalam iklim birokrasi yang kerap dipenuhi intrik, langkah pengunduran diri kadang justru menunjukkan integritas. Pejabat yang tahu kapan harus berhenti adalah mereka yang memahami bahwa jabatan bukan segalanya. Ada waktu untuk bekerja, dan ada waktu untuk kembali ke kehidupan ‘yang nyata’, heee, pribadi, maksudnya.

Mundur, dalam konteks ini, bukan berarti kalah. Justru bisa jadi bentuk kemenangan kecil, kemenangan atas ego, atas ‘tekanan’ jabatan, dan atas kebutuhan untuk tetap waras dalam sistem yang penuh tuntutan.

Birokrasi Harus Tetap Bergerak

Kini, tiga kursi penting di Pemkab Batubara kosong. Ini menjadi tantangan bagi Bupati dan timnya untuk segera mengisi kekosongan itu dengan figur-figur baru yang mampu beradaptasi dengan visi pembangunan ke depan.

Karena birokrasi tak bisa berhenti. Tapi kita pun perlu memberi ruang untuk memahami bahwa di balik struktur, ada manusia. Dan kadang, manusia perlu memilih pergi demi kebaikan yang lebih besar meski tetap akan ada saja yang wak labu, nyinyir, dan salah paham. ****

Follow WhatsApp Channel zulnas.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Datuk Kedatukan Lima Puluh Klaim Punya Bukti Hak Ulayat Sebelum HGU Terbit, Siap Buka Dokumen ke Publik
Menelusuri Jejak Panjang PT Socfindo Tanah Gambus: Dari Perkebunan Kolonial hingga Industri Sawit di Batubara
MAPEL Dorong Satgas Lingkungan dan Evaluasi Pemilik HGU di Batubara
150 Hektare Lahan Cabai Terendam, Petani Gambus Laut Terancam Gagal Panen Diduga Akibat Pengalihan Aliran Sungai
Menelusuri Jejak HGU Perkebunan di Kabupaten Batubara (I)
Mampukah Pansus Plasma 20 Persen Di Implementasikan?
Prof O.K. Saidin: Plasma Harus Jadikan Masyarakat Mitra, Bukan Sekadar Penonton
Pansus Plasma DPRD Batubara Temui Kementan dan ATR/BPN bersama 3 Lembaga Pendamping

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Datuk Kedatukan Lima Puluh Klaim Punya Bukti Hak Ulayat Sebelum HGU Terbit, Siap Buka Dokumen ke Publik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 08:42 WIB

MAPEL Dorong Satgas Lingkungan dan Evaluasi Pemilik HGU di Batubara

Kamis, 6 Agustus 2026 - 20:52 WIB

150 Hektare Lahan Cabai Terendam, Petani Gambus Laut Terancam Gagal Panen Diduga Akibat Pengalihan Aliran Sungai

Kamis, 6 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Menelusuri Jejak HGU Perkebunan di Kabupaten Batubara (I)

Kamis, 6 Agustus 2026 - 08:09 WIB

Mampukah Pansus Plasma 20 Persen Di Implementasikan?

Berita Terbaru

LABUHANBATU

Bupati Dan Kapolres Labusel Dukung PWI Perkuat Informasi Publik

Jumat, 7 Agu 2026 - 22:23 WIB