Istana Niat Lima Laras Jangan Hanya Dijadikan Ikon Festival, tetapi Harus Dirawat sebagai Warisan Peradaban Melayu
Zulnas.com, Batubara — Gegap gempita pagelaran Batubara Bertanjak dari episode pertama hingga episode ketujuh telah menempatkan Istana Niat Lima Laras sebagai ikon kebanggaan daerah. Tanjak menghiasi kepala, tenda-tenda putih berdiri megah, panggung hiburan dipenuhi kemeriahan, dan masyarakat datang menikmati perayaan budaya.
Namun, di tengah segala kemeriahan itu, ada satu kenyataan yang seolah luput dari perhatian: istana yang menjadi ikon justru sedang menghadapi kondisi yang memprihatinkan.
Lihatlah foto udara kawasan istana. Pelatarannya ramai oleh aktivitas festival, tetapi bangunan bersejarah yang berdiri di tengahnya tampak pucat dan menua. Cat mengelupas, kayu mengalami pelapukan, dan bagian atap dilaporkan mengalami kebocoran.
Pemandangan ini seharusnya menggugah kesadaran kita bersama. Sebab, ketika sebuah warisan peradaban dipertontonkan kepada khalayak dalam kondisi yang tidak terawat, persoalannya bukan semata-mata kerusakan bangunan. Ada tanggung jawab sejarah yang sedang dipertaruhkan.
Jangan sampai kita merayakan kebudayaan, tetapi pada saat yang sama membiarkan warisan kebudayaan itu kehilangan martabatnya.
Meriah di Luar, Memprihatinkan di Dalam
Batubara Bertanjak tentu memiliki nilai positif. Festival ini dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas Melayu, menghidupkan tradisi bertanjak, serta menarik perhatian masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan daerah.
Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: setelah tujuh episode digelar, apa yang benar-benar berubah bagi kelestarian Istana Niat Lima Laras?
Apakah kondisi bangunannya semakin baik? Apakah ada langkah nyata untuk menyelamatkan bagian-bagian istana yang mulai rusak? Ataukah kita hanya berhasil membangun kemeriahan sesaat, sementara persoalan utama tetap dibiarkan menunggu?
Pertanyaan ini bukan untuk meniadakan manfaat festival. Sebaliknya, ini merupakan ajakan agar perayaan budaya memiliki arah yang lebih substansial.
Sebab, keberhasilan sebuah festival budaya tidak semestinya hanya diukur dari jumlah pengunjung, kemegahan panggung, atau ramainya dokumentasi di media sosial. Keberhasilan juga harus diukur dari sejauh mana kegiatan tersebut memberi manfaat nyata bagi pelestarian warisan budaya.
Jika istana dijadikan ikon, maka perawatannya seharusnya menjadi prioritas.
Terjebak dalam Budaya Menunggu Bantuan
Selama ini, persoalan pelestarian bangunan bersejarah dari tahun ke tahun kerap berujung pada harapan agar pemerintah turun tangan. Ketika kondisi bangunan semakin memprihatinkan, muncul pernyataan bahwa renovasi akan segera dilakukan. Harapan pun tumbuh, tetapi masyarakat berhak bertanya: kapan janji itu diwujudkan?
Kritik ini tidak berarti pemerintah boleh melepaskan tanggung jawab. Justru pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan pelindungan dan pelestarian cagar budaya berjalan sesuai ketentuan.
Namun, tanggung jawab tersebut juga membutuhkan pengawasan publik, keterlibatan masyarakat, dan keseriusan para pemangku kepentingan.
Kita tidak boleh terus-menerus terjebak dalam siklus yang sama: kerusakan menjadi sorotan, janji disampaikan, perhatian beralih, lalu persoalan kembali terlupakan.
Jangan sampai panggung festival dibongkar setelah acara selesai, sementara janji menyelamatkan istana ikut hilang bersama berakhirnya kemeriahan.
Jika revitalisasi membutuhkan anggaran besar, mulailah dengan langkah yang terukur. Lakukan pendataan kerusakan, susun rencana pemulihan, tentukan prioritas penyelamatan, dan umumkan perkembangan pelaksanaannya kepada masyarakat.
Tidak semua persoalan harus selesai dalam sehari. Tetapi setiap persoalan harus memiliki langkah penyelesaian yang jelas.
Adat Bukan Sekadar Busana
Ada satu hal lain yang patut menjadi bahan renungan: makna kepedulian terhadap adat dan budaya.
Kita bisa menyaksikan banyak orang mengenakan busana Melayu dengan gagah. Tanjak terpasang rapi, gelar adat disebutkan, dan simbol kebesaran budaya ditampilkan dalam berbagai kesempatan.
Semua itu tidak salah. Busana dan simbol adat merupakan bagian dari identitas yang patut dihormati.
Namun, kebudayaan tidak berhenti pada apa yang dikenakan di tubuh. Kebudayaan juga hidup dalam sikap, tanggung jawab, dan tindakan nyata untuk menjaga warisan leluhur.
Gelar adat seharusnya menjadi amanah. Simbol kebesaran semestinya melahirkan tanggung jawab yang besar pula.
Karena itu, kepedulian terhadap adat tidak cukup dibuktikan dengan kehadiran dalam acara seremonial. Kepedulian harus terlihat dari gagasan, dedikasi, keberanian menyampaikan kritik, dan kemampuan menghadirkan solusi.
Adat bukan kostum. Adat adalah tanggung jawab.
Kalimat ini menjadi penting ketika kita berbicara tentang Istana Niat Lima Laras. Sebab, istana tersebut bukan sekadar bangunan tua yang dapat dijadikan latar belakang kegiatan budaya. Ia merupakan bagian dari jejak sejarah dan identitas masyarakat Melayu Batubara.
Istana Niat Lima Laras Bukan Latar Foto
Istana Niat Lima Laras memiliki nilai sejarah yang tidak dapat digantikan oleh panggung festival semegah apa pun. Arsitekturnya, kisah yang menyertainya, dan keberadaannya sebagai peninggalan masa lalu merupakan bagian dari kekayaan peradaban yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketika bangunan itu mengalami kerusakan, yang terancam bukan hanya kayu, dinding, atau atapnya. Yang ikut terancam adalah ruang tempat generasi mendatang mengenali sejarah daerahnya sendiri.
Kita perlu memahami bahwa revitalisasi cagar budaya bukan sekadar mengecat ulang bangunan agar tampak indah saat difoto. Pemulihan harus dilakukan melalui kajian dan penanganan yang tepat, dengan tetap menjaga keaslian serta nilai penting bangunan bersejarah.
Karena itu, pemerintah daerah perlu membangun koordinasi dengan pemerintah provinsi, pemerintah pusat, tenaga ahli pelestarian, pemangku adat, dan masyarakat setempat.
Langkah awalnya dapat berupa pemeriksaan kondisi bangunan secara menyeluruh, penetapan kebutuhan penanganan mendesak, penyusunan rencana konservasi, serta penganggaran yang transparan dan berkelanjutan.
Dengan demikian, pelestarian istana tidak bergantung pada momentum festival atau pergantian pejabat. Ia harus menjadi agenda kebudayaan yang terus berjalan.
Tanjak di Kepala, Kesadaran dalam Pikiran
Sudah saatnya Batubara Bertanjak bergerak melampaui perayaan simbolik. Festival ini memiliki peluang untuk menjadi gerakan kebudayaan yang lebih bermakna: bukan hanya mengajak masyarakat memakai tanjak, tetapi juga mengajak mereka memahami sejarah dan mengambil bagian dalam pelestariannya.
Bayangkan jika setiap episode Batubara Bertanjak disertai laporan perkembangan penyelamatan istana. Jika setiap perayaan menghasilkan komitmen yang terukur. Jika para tokoh adat, pemerintah, pelaku budaya, akademisi, dan masyarakat duduk bersama merumuskan langkah nyata.
Dengan begitu, kemeriahan festival tidak berhenti sebagai tontonan. Ia menjadi pintu masuk bagi gerakan penyelamatan warisan sejarah.
Kita tidak sedang menuntut agar semua persoalan selesai melalui satu festival. Kita hanya menginginkan agar kebanggaan terhadap budaya tidak berhenti pada seremoni, melainkan diwujudkan melalui tindakan yang dapat dirasakan manfaatnya.
Sebab, sebuah daerah tidak hanya dinilai dari kemampuannya menyelenggarakan acara yang meriah, tetapi juga dari kesungguhannya menjaga peninggalan sejarah yang dimilikinya.
Jangan biarkan Istana Niat Lima Laras hanya hidup dalam baliho, spanduk, dan dokumentasi Batubara Bertanjak. Jangan sampai generasi mendatang mengenal kebesaran istana itu hanya melalui cerita, karena bangunan aslinya tidak lagi terselamatkan.
Mari bertanjak dengan kesadaran, beradat dengan tanggung jawab, dan berbudaya melalui tindakan nyata.
Sebab, tanjak yang dikenakan di kepala akan kehilangan maknanya jika kita tidak menggunakannya untuk berpikir.
Dan jika kita sungguh bangga pada Istana Niat Lima Laras, cara terbaik membuktikannya bukan sekadar merayakan keberadaannya, melainkan memastikan bahwa ia tetap berdiri, terawat, dan dapat diwariskan kepada anak cucu kita.
Jangan hanya merayakan kebesaran masa lalu. Selamatkan warisannya untuk masa depan.
Penulis adalah Pemerhati Budaya Ali Usman Nasution












