Zulnas.com, Batubara — Jangan biarkan peradaban Melayu Batubara tinggal sebagai cerita lisan. Jika istana-istana lama telah hilang, bangun kembali jejaknya. Jadikan sejarah bukan sekadar kebanggaan, tetapi juga identitas, pendidikan, dan kekuatan pariwisata daerah.
Banyak daerah di Indonesia sibuk mencari jati diri. Ada yang menggali masa lalu, ada yang menyusun kembali kisah leluhur, bahkan ada yang harus bersusah payah membangun narasi sejarah agar memiliki identitas.
Batubara sesungguhnya tidak perlu melakukan itu.
Kita tidak perlu mengarang cerita untuk terlihat memiliki sejarah. Kita tidak perlu menciptakan peradaban baru untuk sekadar menunjukkan bahwa daerah ini punya masa lalu.
Batubara memiliki sejarahnya sendiri. Peradabannya nyata, akar budayanya jelas, dan jejak pemerintahannya telah tumbuh jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.
Sejak abad ke-18, wilayah yang hari ini kita kenal sebagai Kabupaten Batubara telah memiliki tatanan masyarakat Melayu yang hidup dalam sistem adat dan pemerintahan kedatukan.
Batubara dikenal dengan struktur Kedatukan Empat Suku yang menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Melayu Pesisir Timur Sumatera. Sebuah tatanan yang memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lalu membangun kehidupan, mengatur wilayah, menjaga perdagangan, dan merawat adat istiadat.
Inilah kekayaan sejarah yang seharusnya menjadi kebanggaan sekaligus modal besar bagi masa depan Batubara.
Empat Kedatukan, Empat Pilar Peradaban
Dalam catatan sejarah lokal, terdapat empat kedatukan yang memiliki wilayah, pusat pemerintahan, serta fungsi adat masing-masing.
Pertama, Kedatukan Lima Laras, berpusat di Kampung Bogak atau kawasan Tanjung Tiram. Kedatukan ini dikaitkan dengan jabatan Mata-Mata yang menjalankan fungsi pengawasan dan keamanan negeri.
Kedua, Kedatukan Tanah Datar, berpusat di Padang Genting. Kedatukan ini dikaitkan dengan jabatan Syahbandar yang berhubungan dengan perdagangan, pelabuhan, dan aktivitas ekonomi.
Ketiga, Kedatukan Pesisir, berpusat di Muara Pesisir. Kedatukan ini berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat pesisir, adat, dan tradisi nelayan.
Keempat, Kedatukan Lima Puluh, berpusat di Perupuk. Kedatukan ini dikaitkan dengan jabatan Juru Tulis yang menjalankan fungsi administrasi dan surat-menyurat pemerintahan.
Dalam struktur yang diceritakan turun-temurun, terdapat pula Suku Bogak dan seorang Bendahara yang berperan dalam koordinasi antarkelompok kedatukan, dengan hubungan historis terhadap Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Jika ditelusuri dan didokumentasikan secara serius, sistem ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana pemerintahan adat Melayu Batubara terbentuk dan berkembang.
Bayangkan, jauh sebelum istilah pemerintahan modern dikenal seperti sekarang, masyarakat telah mengenal pembagian peran, pengelolaan wilayah, perdagangan, administrasi, serta mekanisme kepemimpinan adat.
Ini bukan sekadar cerita tentang para datuk. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah masyarakat membangun peradabannya.
Tiga Istana Hilang, Satu Istana Masih Bertahan
Sayangnya, kebesaran sejarah itu tidak seluruhnya bertahan dalam bentuk bangunan fisik.
Dari empat kedatukan tersebut, Istana Niat Lima Laras menjadi salah satu jejak arsitektur sejarah yang masih dapat kita saksikan, meskipun kondisinya membutuhkan perhatian serius.
Istana ini dibangun pada 1907–1912 oleh Datuk Muhammad Yoeda, dengan biaya yang dalam catatan sejarah disebut mencapai 150.000 gulden. Arsitekturnya memperlihatkan perpaduan unsur Melayu, Eropa, dan Tionghoa.
Bangunan ini bukan sekadar rumah seorang datuk. Ia merupakan saksi perjalanan sejarah, simbol kebudayaan, dan bukti bahwa masyarakat Batubara pernah memiliki tradisi arsitektur yang kaya.
Namun, bagaimana dengan istana-istana kedatukan lainnya?
Istana Tanah Datar di Padang Genting disebut telah punah.
Istana Pesisir di Muara Pesisir juga tidak lagi berdiri.
Sementara jejak Istana Lima Puluh di Perupuk nyaris hanya tersisa dalam ingatan dan cerita masyarakat.
Kita kehilangan sebagian besar jejak fisik dari empat pilar sejarah tersebut.
Yang lebih mengkhawatirkan, apabila tidak segera dilakukan pendokumentasian dan pelestarian, generasi berikutnya mungkin hanya mengenal nama kedatukan dari buku pelajaran atau cerita orang tua.
Mereka akan tahu bahwa leluhurnya memiliki peradaban, tetapi tidak pernah benar-benar melihat bagaimana peradaban itu diwujudkan dalam kehidupan.
Kita tidak kekurangan sejarah. Kita justru kekurangan keberanian untuk merawat dan menghadirkannya kembali.
Mengapa Tidak Membangun Taman Empat Kedatukan?
Jika Pemerintah Kabupaten Batubara benar-benar ingin menjadikan sejarah sebagai identitas daerah, mengapa tidak mulai memikirkan sebuah gagasan besar?
Namanya: Taman Empat Kedatukan Batubara.
Sebuah kawasan wisata sejarah dan budaya yang dibangun di ibu kota Kabupaten Batubara, Lima Puluh.
Bayangkan sebuah kawasan sekitar lima hektare yang dirancang sebagai ruang pelestarian sejarah, pendidikan budaya, rekreasi keluarga, sekaligus destinasi wisata unggulan.
Di kawasan itu, empat istana kedatukan dihadirkan kembali dalam bentuk replika berskala 1:1, dengan material dan teknik pembangunan yang disesuaikan dengan karakter arsitektur masing-masing.
Bukan sekadar bangunan untuk berfoto, melainkan replika yang dirancang berdasarkan penelitian sejarah, dokumentasi arsitektur, kesaksian masyarakat, serta kajian para ahli.
Istana Niat Lima Laras dapat menjadi salah satu pusat perhatian, berdampingan dengan replika Istana Tanah Datar, Istana Pesisir, dan Istana Lima Puluh.
Jika bangunan aslinya tidak lagi tersedia, rekonstruksi harus dilakukan secara jujur: mana bagian yang didukung bukti sejarah, mana yang merupakan interpretasi berdasarkan sumber yang tersedia.
Dengan demikian, kita tidak menciptakan sejarah baru. Kita menghadirkan kembali warisan sejarah melalui pendekatan pelestarian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Museum yang Membuat Sejarah Menjadi Hidup
Di dalam setiap bangunan, pengunjung dapat menemukan museum yang menceritakan perjalanan masyarakat Batubara.
Ada silsilah atau tarombo para datuk, termasuk hubungan historis yang dapat ditelusuri dengan Pagaruyung.
Ada foto-foto lama, peta wilayah, dokumen pemerintahan Afdeling Batubara pada masa kolonial, serta catatan mengenai perkembangan permukiman dan perdagangan.
Ada pula koleksi alat tangkap nelayan tradisional, peralatan rumah tangga Melayu, kain songket, pakaian adat, senjata tradisional yang terdokumentasi, dan berbagai artefak yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Teknologi digital juga dapat digunakan untuk menampilkan peta interaktif, rekaman cerita para tetua adat, dokumenter sejarah, dan perjalanan virtual ke kawasan kedatukan.
Dengan cara ini, pengunjung tidak hanya melihat bangunan tua. Mereka memahami manusia, kebudayaan, sistem sosial, dan perjalanan sejarah yang melatarbelakanginya.
Taman ini juga dapat menjadi tempat pertemuan adat, pertunjukan seni Melayu, festival kuliner tradisional, pameran kerajinan, serta kegiatan penelitian dan diskusi kebudayaan.
Sejarah tidak lagi menjadi sesuatu yang terasa jauh dan membosankan. Sejarah hadir, bisa dilihat, dipelajari, dan dialami.
Anak Batubara Harus Mengenal Jati Dirinya
Coba bayangkan seorang siswa sekolah dasar di Batubara berkunjung bersama gurunya ke Taman Empat Kedatukan.
Di sana, ia tidak hanya membaca nama Lima Laras, Tanah Datar, Pesisir, dan Lima Puluh.
Ia melihat bangunannya, mempelajari fungsi pemerintahan adatnya, mendengarkan kisah para datuk, mengenal tradisi nelayan, dan memahami bagaimana masyarakat leluhurnya membangun kehidupan.
Ia pulang membawa pemahaman bahwa Batubara bukan sekadar tempat tinggalnya.
Batubara adalah ruang sejarah yang membentuk identitasnya.
Inilah pendidikan sejarah yang sesungguhnya: bukan hanya menghafal tahun dan nama tokoh, melainkan memahami akar kebudayaan dan menghargai warisan masa lalu.
Taman ini dapat menjadi laboratorium sejarah bagi sekolah, ruang belajar bagi mahasiswa, pusat dokumentasi bagi peneliti, dan tempat berkumpulnya masyarakat adat.
Dengan demikian, investasi kebudayaan tidak hanya dinikmati wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat pendidikan bagi masyarakat Batubara sendiri.
Sejarah Juga Bisa Menggerakkan Ekonomi
Jangan berpikir bahwa membangun kawasan sejarah hanya menghabiskan anggaran.
Jika direncanakan dengan matang, Taman Empat Kedatukan berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Pengunjung membutuhkan transportasi, makanan, penginapan, cendera mata, pemandu wisata, dan berbagai layanan lainnya.
Pelaku UMKM dapat menjual kuliner khas Melayu Batubara. Perajin dapat memasarkan produk budaya. Seniman memperoleh ruang pertunjukan. Generasi muda dapat dilibatkan sebagai pemandu, pengelola kegiatan, pembuat konten, dan pelaku industri kreatif.
Batubara juga memiliki posisi strategis sebagai daerah pesisir dan kawasan industri. Kehadiran destinasi sejarah dapat melengkapi wajah daerah yang selama ini dikenal melalui perkebunan, pelabuhan Kuala Tanjung, dan aktivitas industrinya.
Tentu saja, wisatawan tidak akan datang hanya karena sebuah replika berdiri megah. Mereka datang karena ada pengalaman, cerita yang kuat, fasilitas yang baik, promosi yang konsisten, dan kegiatan yang terus hidup.
Karena itu, pembangunan fisik harus disertai pengelolaan profesional, kalender kegiatan, promosi lintas daerah, serta kemitraan dengan masyarakat dan pelaku usaha.
Jika semua itu dirancang secara berkelanjutan, sejarah dapat menjadi aset kebudayaan sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi lokal.
Batubara Harus Berani Memiliki Ikonnya Sendiri
Bandung memiliki Gedung Sate.
Yogyakarta memiliki Keraton.
Daerah-daerah lain membangun identitas melalui warisan sejarah dan kebudayaan yang mereka rawat.
Lantas, mengapa Batubara tidak membangun ikon yang lahir dari sejarahnya sendiri?
Batubara memiliki kisah empat kedatukan. Batubara memiliki Istana Niat Lima Laras. Batubara memiliki tradisi Melayu pesisir, sejarah perdagangan, kehidupan nelayan, dan jejak pemerintahan adat yang patut ditelusuri lebih jauh.
Semua itu adalah modal yang tidak perlu diciptakan dari nol.
Yang dibutuhkan adalah kemauan politik, penelitian yang serius, perencanaan yang matang, serta keberanian mengalokasikan sumber daya secara bertanggung jawab.
Tentu, gagasan Taman Empat Kedatukan harus diawali dengan kajian kelayakan, penelitian sejarah dan arsitektur, konsultasi dengan para zuriat serta pemangku adat, perhitungan biaya pembangunan dan pemeliharaan, serta kajian manfaat ekonomi dan lingkungan.
Pembangunannya pun dapat dilakukan bertahap agar tidak membebani keuangan daerah. Pemerintah bisa membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah pusat, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas budaya, dan masyarakat.
Yang terpenting, jangan sampai gagasan besar ini hanya menjadi proyek bangunan megah yang kehilangan jiwa setelah diresmikan.
Jangan Hanya Membangun Gerbang, Bangunlah Ingatan Kolektif
Batubara tidak perlu sibuk mencari identitas ke tempat lain. Identitas itu telah tumbuh dari sejarah masyarakatnya sendiri.
Jika selama ini kita mengeluhkan hilangnya istana-istana kedatukan, sekarang saatnya mengubah penyesalan menjadi gagasan.
Jika bangunan aslinya sudah tidak ada, dokumentasikan jejaknya. Jika bukti sejarah memungkinkan, hadirkan replikanya. Jika tradisi mulai memudar, hidupkan kembali melalui pendidikan dan kegiatan kebudayaan.
Kita tidak dapat mengembalikan waktu. Namun, kita dapat memastikan bahwa warisan masa lalu tidak ikut terkubur bersama berlalunya generasi.
Bayangkan suatu hari orang datang ke Lima Puluh bukan hanya untuk urusan pemerintahan atau perjalanan menuju kawasan industri, melainkan untuk melihat langsung warisan peradaban Melayu Batubara.
Mereka datang bersama keluarga. Anak-anak belajar sejarah. Peneliti menemukan sumber baru. Wisatawan mengenal kebudayaan pesisir. Pelaku UMKM memperoleh penghasilan. Dan masyarakat Batubara sendiri kembali memahami kebesaran akar sejarahnya.
Itulah masa depan yang layak diperjuangkan.
Jangan biarkan Batubara hanya memiliki sejarah untuk diceritakan. Jadikan sejarah itu sesuatu yang dapat dilihat, dipelajari, dan diwariskan.
Jangan hanya membangun gerbang selamat datang.
Bangunlah kembali ingatan kolektif tentang peradaban yang pernah tumbuh di negeri ini.
Sebab, daerah yang besar bukan hanya daerah yang mampu membangun jalan, pelabuhan, dan kawasan industri. Daerah yang besar juga tahu dari mana ia berasal dan warisan apa yang harus ia tinggalkan bagi generasi berikutnya.
Batubara tidak perlu mengarang sejarah. Batubara hanya perlu berani merawat sejarahnya sendiri.
Penulis : Ali Usman Nasution












