Zulnas.com, Batubara – Banjir rob melanda wilayah pesisir Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, pada Kamis malam, 19 September 2024. Luapan air laut yang mencapai permukiman warga menyebabkan lumpuhnya aktivitas masyarakat di Desa Bandar Rahmat dan Kelurahan Bagan Area, Kecamatan Tanjung Tiram.
Dampaknya, ratusan rumah terendam, sejumlah fasilitas ibadah tergenang, dan warga terpaksa mengungsi ke tempat aman.
Berdasarkan laporan dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batubara, banjir rob kali ini merupakan salah satu yang terparah sepanjang tahun 2024. TRC yang sudah berada di lokasi sejak malam kejadian terus melakukan proses evakuasi dan pendataan wilayah terdampak.
“Fokus kami saat ini adalah menyelamatkan warga, mengevakuasi mereka ke tempat aman, dan memetakan wilayah yang paling parah terdampak genangan air,” kata salah satu petugas TRC.
Di Desa Bandar Rahmat, sekitar 200 rumah warga terendam air laut. Bahkan, masjid utama desa ikut tergenang hingga bagian ruang dalam, memaksa penghentian sementara seluruh aktivitas ibadah. Kepala Desa Bandar Rahmat, Suf Miswan, menyampaikan keprihatinannya atas situasi ini.
“Air laut masuk ke dalam masjid dan mengganggu kenyamanan beribadah. Kami terpaksa menghentikan salat berjamaah untuk sementara waktu,” ujar Suf Miswan.
Kondisi serupa juga terjadi di Kelurahan Bagan Area, di mana sekitar 120 rumah warga dilaporkan terdampak. Masjid besar di kelurahan tersebut pun turut terendam, dan sempat ditutup untuk dilakukan pembersihan. Lurah Bagan Area, Hanafi, mengonfirmasi bahwa aktivitas keagamaan di wilayahnya lumpuh total akibat banjir rob ini.
Tidak hanya permukiman dan rumah ibadah, sektor pendidikan juga terkena imbas. Sekolah-sekolah di Desa Bandar Rahmat tidak dapat melaksanakan proses belajar mengajar karena genangan mencapai ruang kelas. Saat ini, pihak sekolah masih membersihkan lingkungan sekolah agar kegiatan belajar dapat kembali berjalan normal.
Warga yang rumahnya terendam mengungsi ke rumah kerabat atau fasilitas umum yang tidak terdampak. Akses jalan utama di beberapa titik juga terputus akibat genangan yang cukup tinggi, menambah kesulitan bagi warga dan petugas yang berupaya memberikan bantuan.
Kondisi ini memicu desakan dari warga dan aparatur desa agar pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata. Bantuan logistik, penyediaan tempat pengungsian yang layak, serta perbaikan fasilitas umum seperti rumah ibadah dan sekolah menjadi kebutuhan mendesak.
Selain itu, warga menilai perlunya pembangunan tanggul sementara atau sistem saluran darurat untuk menanggulangi luapan air laut di masa mendatang. Mereka berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan darurat, tetapi juga solusi jangka panjang untuk mengurangi kerentanan wilayah pesisir Batubara terhadap banjir rob.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa kawasan pesisir Batubara sangat rentan terhadap gelombang pasang. Dengan ratusan rumah terendam, fasilitas umum lumpuh, dan ratusan warga mengungsi, bencana ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan pemangku kebijakan untuk segera memperkuat sistem mitigasi bencana di wilayah pesisir. (Dan).