Eks Pegawai Google Ungkap Kebohongan Raksasa Teknologi

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 13 Maret 2023 - 21:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lambang Perusahaan Google

Lambang Perusahaan Google

Zulnas.com, Jakarta — Raksasa teknologi kerap  disebut sebagai pengontrol kehidupan manusia. Melalui algoritma yang mereka kembangkan, warganet disuguhkan beragam iklan dan konten yang katanya ‘sesuai selera’ masing-masing.

Nyatanya, raksasa teknologi tak punya kontrol atas teknologi yang mereka ciptakan. Hal ini diungkap mantan engineer Google dan Microsoft, David Auerbach, dalam sebuah wawancara. 

Ia mengatakan banyak orang menyalahkan raksasa teknologi karena membuat hidup lebih sengsara. Misalnya saja media sosial yang dituduh membuat orang kecanduan, konsumtif, dan memicu rasa iri-dengki satu sama lain.

Padahal, menurut Auerbach, raksasa teknologi juga tak punya kontrol sebesar itu untuk mengatur bagaimana teknologinya berkembang dan mempengaruhi kehidupan manusia.

“Ada sebuah memo internal Facebook yang bocor. Dalam memo itu, tertulis bahwa Facebook tidak mau orang-orang tahu bahwa mereka tak punya kontrol atas sistem yang mereka buat,” kata dia.

“Raksasa teknologi lebih memilih disebut evil (jahat), ketimbang orang tahu fakta sebenarnya bahwa mereka tak punya kontrol atas teknologi yang diciptakan,” ia menambahkan. 

Baca Juga :  Kemendagri Ajak Stakeholder dan Masyarakat Lawan Sumber Konflik Pilkada 2020

Menurut dia, algoritma pada media sosial dan semua layanan teknologi dikendalikan oleh sistem. Sistem terbentuk dan membentuk orang-orang yang menggunakannya. Pemerintah maupun raksasa teknologi tak bisa mengontrol algoritma. 

Jika algoritma kemudian membuat hidup manusia sengsara, maka ada yang salah dari sistem yang dibentuk oleh manusia itu sendiri. 

“Efek sistem algoritma saat ini berkontribusi pada perpecahan masyarakat, di mana kita semua tidak bisa memahami satu sama lain. Kita semua terpecah menjadi kelompok-kelompok yang punya kebulatan suara dan keseragaman, sehingga mencegah adanya konsensus masyarakat berskala besar,” ia menjelaskan, dikutip dari Guardian, Senin (13/3/2023).

Kesadaran Auerbach soal algoritma teknologi yang menghancurkan ini dimulai saat media sosial menjadi populer. Ia melihat bagaimana manusia bereaksi terhadap algoritma dan sebaliknya algoritma bereaksi terhadap manusia. 

Baca Juga :  Dewan Pakar PJS Sebut Jurnalis Mampu Sebagai kontra-intelijen dalam Politik Indonesia

Hubungan timbal balik itu bergulir terus dan dampaknya makin buruk. “Butuh waktu bagi saya untuk sadar bahwa kita semua tak punya kontrol pada sistem, dan bahkan para pencipta sistem ini punya kontrol yang sangat kecil dibandingkan yang kita bayangkan,” ia menerangkan.

Sistem algoritma yang menjadi besar di media sosial kemudian dijadikan tulang punggung untuk semua teknologi yang ada saat ini, mulai dari mata uang kripto hingga Metaverse dan penerapan AI lebih lanjut.

Auerbach diketahui baru saja merampungkan bukunya Meganets: How Digital Forms Beyond Our Control Commander Our Daily Lives and Inner Reality. Dalam kesempatan itu, dia juga mencoba mendefinisikan meganet.

Meganet merupakan jaringan data yang berkembang terus dan arahnya menjadi buram, namun punya kekuatan besar untuk mempengaruhi cara umat manusia melihat dunia. ***CNBC

Follow WhatsApp Channel zulnas.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Prabowo Didesak Ambil Alih Lahan Eks HGU PT Socfindo di Batubara
Usia 30: Titik Balik Pria Menuju Kedewasaan dan Tanggung Jawab Hidup
KH. Ma’ruf Amin Resmi Jadi Ketua Dewan Penasehat SMSI: Tegaskan Media Siber Harus Jadi Penjaga Moral Bangsa
SMSI Gelar Dialog Nasional “Media Baru vs UU ITE”: Literasi Digital Jadi Kunci Kebebasan dan Tanggung Jawab di Era Siber
Kisah Dramatis Ayub Ramadhansyah: Warga Batubara yang Selamat dari Jerat TPPO di Kamboja, Nyaris Dijual 50 Ribu Dolar
Pulang dari Kamboja, Ayub Ungkap Kisah Mengerikan: Disiksa, Diancam Ambil Ginjal, Hingga Lari Kehutan
Polres Batubara Klarifikasi: Tidak Menolak Laporan, Orang Tua Korban Sudah Dikoordinasikan ke BP2MI
Pemkab Batubara Koordinasi Intensif Lacak Keberadaan Warga Diduga Jadi Korban Perdagangan Manusia di Kamboja
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Januari 2026 - 20:40 WIB

Presiden Prabowo Didesak Ambil Alih Lahan Eks HGU PT Socfindo di Batubara

Kamis, 6 November 2025 - 19:12 WIB

Usia 30: Titik Balik Pria Menuju Kedewasaan dan Tanggung Jawab Hidup

Selasa, 4 November 2025 - 15:29 WIB

KH. Ma’ruf Amin Resmi Jadi Ketua Dewan Penasehat SMSI: Tegaskan Media Siber Harus Jadi Penjaga Moral Bangsa

Rabu, 29 Oktober 2025 - 12:21 WIB

SMSI Gelar Dialog Nasional “Media Baru vs UU ITE”: Literasi Digital Jadi Kunci Kebebasan dan Tanggung Jawab di Era Siber

Jumat, 17 Oktober 2025 - 10:01 WIB

Kisah Dramatis Ayub Ramadhansyah: Warga Batubara yang Selamat dari Jerat TPPO di Kamboja, Nyaris Dijual 50 Ribu Dolar

Berita Terbaru

BATUBARA

Di Ujung Tahun, Kertas Bernama SK Itu Mengubah Segalanya

Minggu, 4 Jan 2026 - 00:55 WIB