Zulnas.com, Labuhanbatu – Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang jatuh bertepatan dengan 1 Suro 1960 Jawa disambut semarak oleh warga Desa Kampung Baru, Kecamatan Bilah Barat. Selasa 16 Juni 2026, sejak pagi hingga malam, desa itu berubah menjadi panggung budaya. Ribuan warga tumpah ruah di jalan, menyatu dalam kirab, alunan gamelan, dan harum jajanan pasar tradisional.
Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Merawat Jati Diri
Perayaan ini digagas Kelompok Tani Karya Mandiri bersama Pemerintah Desa Kampung Baru. Bagi warga, 1 Suro bukan hanya pergantian tahun. Ia adalah momentum untuk eling, mengingat kembali ajaran leluhur dan memperkuat ikatan sosial. Di tengah arus modernisasi, warga Kampung Baru memilih merawat akar budayanya.
Acara dibuka dengan prosesi Eling Budaya. Para sesepuh dan tokoh adat memimpin doa bersama. Suasana khidmat menyelimuti halaman balai desa. Doa dipanjatkan sebagai wujud syukur atas tahun yang lalu dan harapan keselamatan untuk tahun yang baru.
Gunungan Diarak, Berkah Diperebutkan
Usai doa, kemeriahan pecah saat Kirab Budaya Jawa Gunungan dimulai. Dua gunungan setinggi orang dewasa yang disusun dari hasil bumi seperti padi, jagung, aneka sayur, dan buah diarak keliling kampung. Iringan gamelan dan penari Jathilan membuat suasana kian hidup.
Begitu tiba di titik akhir kirab, warga langsung berebut uborampe dari gunungan. Bagi mereka, mendapat bagian dari gunungan berarti membawa pulang berkah dan kemakmuran. Tua muda, anak-anak hingga kakek nenek ikut merangsek maju dengan tawa. Banyak ponsel terangkat, mengabadikan momen yang hanya terjadi setahun sekali ini.
Pesta Rasa di Stan Jajanan Pasar
Di sisi lain lapangan, puluhan stan UMKM berjejer rapi. Aroma gula merah dan kelapa parut menguar dari jajanan seperti getuk, klepon, lupis, dan cenil. Bagi generasi tua, stan ini jadi obat rindu. Bagi anak muda, ini jadi kelas budaya yang menyenangkan. Mereka belajar bahwa di balik rasa manis legit, ada filosofi dan sejarah panjang yang diwariskan turun-temurun.
Panggung Seni Hidup Sejak Siang hingga Malam
Panggung utama tidak pernah sepi. Tari Gambyong membuka pertunjukan siang hari, disusul atraksi Jathilan yang memukau. Lomba vokal solo lagu Jawa jadi ajang unjuk gigi bakat muda desa. Malam harinya, warga sudah bersiap untuk wayang kulit semalam suntuk.
Salah satu yang ditunggu adalah pemilihan Duta Budaya Jawa. Para finalis tampil anggun dengan kebaya dan beskap. Mereka tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga diuji pemahaman tentang falsafah Jawa, unggah-ungguh, dan adat istiadat.
Wabup Labuhanbatu: Budaya Adalah Identitas
Kemeriahan acara bertambah dengan hadirnya Wakil Bupati Labuhanbatu H. Jamri, ST. Bersama Kepala Dinas Ketenagakerjaan Zulkarnain Siregar, perwakilan Disporabudpar, Satpol PP, Camat Bilah Barat, dan Kepala Desa Kampung Baru, Wabup berkeliling menyapa warga dan meninjau stan UMKM.
“Atas nama pribadi dan Pemkab Labuhanbatu, saya bangga melihat gotong royong warga Kampung Baru. Tradisi seperti ini adalah identitas kita. Tugas kita menjaganya agar tidak hilang ditelan zaman,” kata Wabup Jamri dalam sambutannya.
Ia menyebut Pemkab Labuhanbatu siap mendukung kegiatan budaya di tingkat desa. Menurutnya, perayaan 1 Suro di Kampung Baru layak masuk kalender wisata budaya kabupaten karena berpotensi menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi warga.
Ketua Panitia Pelaksana menegaskan acara ini sukses karena kerja bersama. “Dari ibu-ibu yang masak, pemuda yang bikin gunungan, sampai sesepuh yang menuntun adat. Semua terlibat,” ujarnya.
Momen Akrab Wabup dan Puteri Wisata
Suasana makin cair ketika Wabup Jamri naik panggung dan bernyanyi bersama Puteri Wisata Lingkungan Indonesia 2022, Disty Khanaya. Lagu Jawa yang mereka bawakan langsung disambut koor warga. Tepuk tangan dan tawa pecah. Momen kedekatan pemimpin dan rakyat seperti ini yang membuat acara terasa hangat.
Pengamanan dari Polsek dan Koramil setempat membuat acara berjalan aman dan tertib dari awal hingga akhir. Turut hadir tokoh adat Jawa, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tamu undangan dari desa tetangga.
Warisan yang Terus Hidup
Perayaan 1 Suro tahun ini disebut-sebut sebagai yang paling meriah dalam beberapa tahun terakhir di Kampung Baru. Antusiasme warga menjadi bukti bahwa kearifan lokal tidak mati. Ia hidup, dirawat, dan dirayakan bersama.
Semangat Kampung Baru ini diharapkan menular ke desa lain. Sebab melestarikan budaya berarti menjaga ingatan kolektif tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Di Labuhanbatu, ingatan itu masih dijaga dengan gamelan, gunungan, dan gotong royong. Ce Ha












