Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/u394909811/domains/zulnas.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Chairil Anwar: Hidup yang Menyala Lewat Kata

- Jurnalis

Sabtu, 7 Februari 2026 - 16:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zulnas.com, Labuhanbatu — Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Sejak kecil, ia bukan anak yang tenang. Ada kegelisahan yang menetap dalam dirinyabukan karena kehilangan tujuan, melainkan karena pikirannya berlari terlalu cepat. Dunia terasa sempit bagi Chairil. Buku-buku asing, kata-kata baru, dan gagasan yang tak biasa menjadi tempat pelariannya. Ia tumbuh dengan satu keyakinan: hidup harus dijalani dengan caranya sendiri.

Ketika remaja, Chairil sudah membaca karya-karya sastra Barat, dari Hendrik Marsman hingga Rainer Maria Rilke.

Bacaan-bacaan itu membentuk caranya memandang hidup dan bahasa. Ia tidak ingin menjadi penyair yang patuh pada pakem lama. “Aku mau hidup seribu tahun lagi,” tulisnya dalam sajak Aku (1943), sebuah kalimat yang kelak menjadi mantra keberaniannya.

Aturan terasa mengekang. Kemapanan terdengar membosankan. Chairil memilih jalan yang tak rapi, tak aman, tetapi jujur. Baginya, hidup bukan sesuatu yang cukup diterima, melainkan harus ditantang. Jika tak bisa ditaklukkan, maka ia akan melawannya dengan kata-kata.

Jakarta menjadi titik balik. Kota itu keras, bising, dan tak ramai
namun justru di sanalah Chairil menemukan ruang bagi suaranya. Di tengah masa pendudukan Jepang dan pergolakan menuju kemerdekaan, ia menulis puisi-puisi yang terasa berbeda dari generasi sebelumnya.

Baca Juga :  Wabup Jamri Hadiri Paripurna Penyampaian Nota Keuangan Ranperda APBD Labuhanbatu TA 2026

Puisinya pendek, padat, dan langsung menghantam. Tak banyak basa-basi. Tak berusaha manis. Kata aku hadir dengan berani, berdiri di depan, menuntut untuk diakui.

Kritikus sastra H.B. Jassin pernah menyebut Chairil sebagai “pelopor Angkatan ’45” karena keberaniannya memutus tradisi lama dan membuka jalan bagi puisi Indonesia modern. Banyak yang menganggap puisinya liar, tak beraturan, bahkan kasar. Namun justru dari ketidakrapian itulah lahir kekuatan.

Chairil seperti membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin masuk tanpa izin dingin, keras, tetapi menyadarkan.
Di balik namanya yang mulai dikenal, hidup Chairil jauh dari kata mapan. Ia hidup sederhana, sering berpindah tempat, dan berutang untuk bertahan. Tubuhnya rapuh, mudah sakit.

Dalam surat-suratnya kepada kawan-kawan dekat, ia kerap mengeluhkan kondisi tubuh dan kesepian yang mengikutinya. Namun semangatnya nyaris tak pernah benar-benar padam. Ia menulis bukan untuk menjadi teladan, apalagi suci. Ia menulis untuk bertahan hidup.

Dalam puisi-puisinya terdapat perlawanan yang tegas, cinta yang tidak sentimentil, serta kesepian yang tidak mengiba. “Sekali berarti, sudah itu mati,” tulisnya dalam sajak

Baca Juga :  Plt. Bupati Labuhanbatu Perpanjang Masa Jabatan 51 Kepala Desa

Diponegoro sebuah pernyataan sikap yang menjelaskan cara ia memandang hidup dan kematian. Chairil tidak meminta untuk dikasihani. Ia hanya ingin jujur, bahkan pada luka-lukanya sendiri.

Penyakit perlahan menggerogoti tubuhnya. Tifus, TBC, dan komplikasi lain datang bertubi-tubi, sementara hidup tetap keras, tanpa kompromi. Pada 28 April 1949, Chairil Anwar meninggal dunia di Jakarta.

Usianya baru 26 tahunterlalu muda, kata banyak orang, terlalu cepat untuk seseorang yang begitu menyala.

Namun barangkali Chairil memang hidup dengan cara itu: membakar dirinya sendiri hingga habis. Tubuhnya boleh runtuh, tetapi kata-katanya menolak ikut mati.

Hingga kini, puisi-puisinya seperti Aku, Karawang – Bekasi, dan Derai-Derai Cemara terus dibaca, dipelajari, dan dikutip lintas generasi.

Hari ini, Chairil Anwar dikenang bukan sekadar sebagai penyair Angkatan ’45. Ia adalah suara keberanian: keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk jujur pada luka, dan keberanian untuk hidup sepenuh-penuhnya, meski sadar bahwa segalanya akan berakhir.

Umurnya singkat, tetapi jejaknya panjang. Ni Selama kata-katanya terus dibaca, Chairil Anwar akan tetap hidup di kepala, di dada, dan di kegelisahan banyak orang. (Ce Ha).

Follow WhatsApp Channel zulnas.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Labuhanbatu Berharap Budaya Masuk Dalam Kurikulum Pendidikan
Adriansyah, Hidayat, dan Andre: Trio Pelatih yang Siapkan Poslab Labuhanbatu di Liga 4 Sumut
Kejari Labuhanbatu Edukasi Pelajar SMPN 3 Rantau Utara
Langkah Pasti Labuhanbatu Menuju Kesehatan Semesta
TP-PKK Labuhanbatu Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Menyemai Kesejahteraan Keluarga Menuju 2026
Staf Ahli Bupati Labuhanbatu Pimpin Apel Gabungan: Fokus pada Ketahanan Pangan Jelang Ramadan 2026
Wabup Jamri Hadiri Paripurna DPRD Labuhanbatu, Tekankan Sinkronisasi Aspirasi Rakyat dan RKPD
Rapat Koordinasi Awal GTRA Kabupaten Labuhanbatu 2026 Digelar
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 11:58 WIB

Bupati Labuhanbatu Berharap Budaya Masuk Dalam Kurikulum Pendidikan

Sabtu, 7 Februari 2026 - 16:03 WIB

Chairil Anwar: Hidup yang Menyala Lewat Kata

Sabtu, 7 Februari 2026 - 16:00 WIB

Adriansyah, Hidayat, dan Andre: Trio Pelatih yang Siapkan Poslab Labuhanbatu di Liga 4 Sumut

Rabu, 28 Januari 2026 - 18:31 WIB

Langkah Pasti Labuhanbatu Menuju Kesehatan Semesta

Selasa, 27 Januari 2026 - 14:25 WIB

TP-PKK Labuhanbatu Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Menyemai Kesejahteraan Keluarga Menuju 2026

Berita Terbaru

LABUHANBATU

Chairil Anwar: Hidup yang Menyala Lewat Kata

Sabtu, 7 Feb 2026 - 16:03 WIB