Zulnas.com, Batubara — Waktu tidak pernah benar-benar berjalan pelan bagi mereka yang memegang amanah. Hari ini, tanpa aba-aba, satu tahun masa jabatan Bupati Batubara Baharuddin Siagian–Syafrizal telah terlewati.
Kalender pemerintahan terus bergerak, sementara APBD 2026 mulai digulirkan, program demi program perlahan menjejak tanah realitas.
Setahun terakhir adalah tahun yang padat. Jadwal birokrasi silih berganti, peresmian demi peresmian menjadi rutinitas, pita dipotong, baliho terpasang, dokumentasi disimpan rapi. Di balik itu, waktu terus menggerus diam-diam, tanpa kompromi.
Pada fase ini, seorang kepala daerah mulai dihadapkan pada pertanyaan yang lebih sunyi namun tajam, apa yang sudah benar-benar berubah?
Janji kampanye bukan sekadar arsip politik. Ia adalah kontrak moral yang diingat rakyat, meski kadang dilupakan kekuasaan.
Program kesehatan masyarakat, pembangunan berkelanjutan, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan, semua pernah diucapkan dengan penuh keyakinan di hadapan publik. Kini, janji-janji itu berdiri di depan pintu realisasi, menunggu keberanian untuk ditepati.
Waktu memang kejam sekaligus jujur. Tanpa terasa, masa jabatan yang semula terasa panjang kini menyisakan empat tahun. Empat tahun bukanlah waktu yang lama jika dihabiskan untuk seremonial. Tetapi empat tahun bisa menjadi sangat berarti bila diisi dengan kerja yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Dalam perjalanan kekuasaan, yang sering luput disadari adalah sifatnya yang rapuh. Jabatan adalah pinjaman. Hari ini seseorang dipuji, esok bisa diganti. Tepuk tangan bisa berubah menjadi kritik, dan sorak sorai bisa berganti sunyi. Sejarah politik penuh dengan contoh itu.
Namun ada satu hal yang tidak ikut rapuh bersama jabatan, cara memperlakukan manusia.
Empati, kejujuran, dan keberpihakan pada yang lemah adalah warisan yang tak bisa dicopot oleh waktu maupun pergantian kekuasaan. Itulah yang tinggal ketika baliho diturunkan dan jabatan berakhir.
Jika kelak masa ini dikenang, semoga yang tersisa bukan sekadar catatan anggaran dan daftar peresmian, melainkan kenangan tentang kepemimpinan yang memberi arti. Karena kenangan yang baik akan menjadi perjalanan spiritual menghiasi usia, menenangkan hati, dan memberi makna pada waktu yang tak bisa ditahan.
Menghitung hari bukan tentang cemas pada akhir jabatan, melainkan kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan. Kesempatan untuk menepati janji, memperbaiki yang tertunda, dan meninggalkan jejak yang layak diingat.
Sebab pada akhirnya, yang benar-benar bertahan bukanlah kekuasaan, melainkan nilai. Dan nilai itulah yang menentukan apakah sebuah masa jabatan hanya akan tercatat atau dikenang. Semoga bahagia. ****Zn












