Zulnas.com, Labuhanbatu — Di tengah gemerlap lampu atrium Suzuya Mall, suara pengeras dan langkah ribuan pengunjung berpadu menjadi satu ritme optimisme. Spanduk warna-warni membentang tinggi, namun yang paling menonjol bukan dekorasi, melainkan mata penuh harapan warga yang hadir.
Untuk pertama kalinya, Labuhanbatu menghadirkan pameran perumahan eksklusif yang menyatukan masyarakat, pemerintah, dan pengembang dalam satu ruang, sebuah momen belum pernah ditayangkan di media lokal maupun nasional.
Siapa dan Apa: Pemimpin dan Warga Bersatu untuk Rumah
Di panggung utama, Bupati Labuhanbatu, Maya Hasmita, membuka acara dengan suara tegas namun hangat. Ia menekankan bahwa pemerintah daerah tidak sekadar mengikuti Program Nasional Tiga Juta Rumah, tapi menjadi penggerak utama dalam mewujudkan hak dasar warga untuk memiliki rumah sendiri.
“Hak memiliki rumah bukan kemewahan, tapi kebutuhan dan pondasi hidup yang layak,” ujarnya, disambut tepuk tangan hangat pengunjung.
Di arena yang sama, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman, Hamdi Erazona, memaparkan angka yang mencuri perhatian: 1.800 unit rumah baru siap dibangun. Bagi ribuan warga, angka ini bukan statistik semata, tetapi peluang nyata:
keluarga muda yang selama ini berpindah kontrakan,
ASN yang ingin tinggal lebih dekat kantor, PPPK yang merindukan stabilitas hidup, pekerja swasta yang ingin menabung masa depan, guru honorer yang selama ini tak yakin bisa punya rumah.
Kapan dan Di Mana: Pameran yang Membuka Jalan
Pameran ini digelar pada 25–27 November 2025 di atrium utama Suzuya Mall Rantauprapat. Selama tiga hari, warga dari berbagai kecamatan datang, tidak hanya untuk melihat rumah, tetapi untuk mengakses informasi langsung tentang KPR, rumah subsidi, dan legalitas properti.
Mengapa: Rumah Sebagai Hak dan Harapan
Sebelumnya, banyak warga takut membicarakan KPR karena istilah-istilah seperti angsuran, tenor, dan bunga terasa rumit. Namun pameran ini menghadirkan cara baru memahami kepemilikan rumah:
Petugas bank menjelaskan simulasi KPR dengan sabar. Developer memaparkan brosur dengan transparan.
Notaris memandu warga memahami SHM, IMB, dan sertifikat lahan.
Yang dulu menakutkan kini terasa mungkin. Yang sebelumnya rumit kini membimbing langkah nyata menuju rumah sendiri.
Bagaimana: Dari Maket ke Kunci Rumah
Di sudut ruangan, cerita pribadi hadir sebagai bukti keberhasilan.
Pak Andi, ASN yang selama ini tinggal bersama mertua, berkata,
“Kalau simulasi KPR cocok, tahun depan saya bisa punya rumah sendiri.”
Aprilia, guru honorer dari Panai Hilir, mengaku sebelumnya tak berani bermimpi. Setelah melihat rumah subsidi FLPP, ia tersenyum:
“Ternyata bisa ya, tidak sesulit yang saya pikir.”
Pameran ini mempermudah proses kepemilikan rumah: warga melihat brosur → berdiskusimelakukan simulasi KPR menandatangani berkas menerima kunci rumah. Dari mimpi ke kenyataan, semuanya dimulai di sini.
Dampak Lebih Luas: Rumah sebagai Motor Ekonomi
Selain sisi kemanusiaan, pameran ini menggerakkan ekonomi lokal Labuhanbatu: kontraktor lokal kembali bekerja, toko material bangunan hidup,
tenaga kerja konstruksi terserap,
kawasan permukiman baru tumbuh,
UMKM mengikuti geliat ekonomi
Rumah bukan sekadar atap dan tembok, tapi ekosistem ekonomi mikro yang membangun kehidupan.
Penutup: Sejarah Sunyi yang Penuh Makna
Tidak ada sorotan media nasional.
Tidak ada kembang api.
Tidak ada headline bombastis.
Namun di balik kesederhanaan itu, Labuhanbatu sedang menulis sejarah sunyi: ribuan harapan warga perlahan menjadi nyata. Dan kelak, ketika rumah-rumah itu berdiri kokoh, sebuah keluarga akan berkata:
“Di sana awalnya di sebuah pameran sederhana di Rantauprapat, mimpi kami berdiri di atas pondasinya.” (CeHa).












