Zulnas.com, Labuhanbatu — Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Sejak kecil, ia bukan anak yang tenang. Ada kegelisahan yang menetap dalam dirinyabukan karena kehilangan tujuan, melainkan karena pikirannya berlari terlalu cepat. Dunia terasa sempit bagi Chairil. Buku-buku asing, kata-kata baru, dan gagasan yang tak biasa menjadi tempat pelariannya. Ia tumbuh dengan satu keyakinan: hidup harus dijalani dengan caranya sendiri.
Ketika remaja, Chairil sudah membaca karya-karya sastra Barat, dari Hendrik Marsman hingga Rainer Maria Rilke.
Bacaan-bacaan itu membentuk caranya memandang hidup dan bahasa. Ia tidak ingin menjadi penyair yang patuh pada pakem lama. “Aku mau hidup seribu tahun lagi,” tulisnya dalam sajak Aku (1943), sebuah kalimat yang kelak menjadi mantra keberaniannya.
Aturan terasa mengekang. Kemapanan terdengar membosankan. Chairil memilih jalan yang tak rapi, tak aman, tetapi jujur. Baginya, hidup bukan sesuatu yang cukup diterima, melainkan harus ditantang. Jika tak bisa ditaklukkan, maka ia akan melawannya dengan kata-kata.
Jakarta menjadi titik balik. Kota itu keras, bising, dan tak ramai
namun justru di sanalah Chairil menemukan ruang bagi suaranya. Di tengah masa pendudukan Jepang dan pergolakan menuju kemerdekaan, ia menulis puisi-puisi yang terasa berbeda dari generasi sebelumnya.
Puisinya pendek, padat, dan langsung menghantam. Tak banyak basa-basi. Tak berusaha manis. Kata aku hadir dengan berani, berdiri di depan, menuntut untuk diakui.
Kritikus sastra H.B. Jassin pernah menyebut Chairil sebagai “pelopor Angkatan ’45” karena keberaniannya memutus tradisi lama dan membuka jalan bagi puisi Indonesia modern. Banyak yang menganggap puisinya liar, tak beraturan, bahkan kasar. Namun justru dari ketidakrapian itulah lahir kekuatan.
Chairil seperti membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin masuk tanpa izin dingin, keras, tetapi menyadarkan.
Di balik namanya yang mulai dikenal, hidup Chairil jauh dari kata mapan. Ia hidup sederhana, sering berpindah tempat, dan berutang untuk bertahan. Tubuhnya rapuh, mudah sakit.
Dalam surat-suratnya kepada kawan-kawan dekat, ia kerap mengeluhkan kondisi tubuh dan kesepian yang mengikutinya. Namun semangatnya nyaris tak pernah benar-benar padam. Ia menulis bukan untuk menjadi teladan, apalagi suci. Ia menulis untuk bertahan hidup.
Dalam puisi-puisinya terdapat perlawanan yang tegas, cinta yang tidak sentimentil, serta kesepian yang tidak mengiba. “Sekali berarti, sudah itu mati,” tulisnya dalam sajak
Diponegoro sebuah pernyataan sikap yang menjelaskan cara ia memandang hidup dan kematian. Chairil tidak meminta untuk dikasihani. Ia hanya ingin jujur, bahkan pada luka-lukanya sendiri.
Penyakit perlahan menggerogoti tubuhnya. Tifus, TBC, dan komplikasi lain datang bertubi-tubi, sementara hidup tetap keras, tanpa kompromi. Pada 28 April 1949, Chairil Anwar meninggal dunia di Jakarta.
Usianya baru 26 tahunterlalu muda, kata banyak orang, terlalu cepat untuk seseorang yang begitu menyala.
Namun barangkali Chairil memang hidup dengan cara itu: membakar dirinya sendiri hingga habis. Tubuhnya boleh runtuh, tetapi kata-katanya menolak ikut mati.
Hingga kini, puisi-puisinya seperti Aku, Karawang – Bekasi, dan Derai-Derai Cemara terus dibaca, dipelajari, dan dikutip lintas generasi.
Hari ini, Chairil Anwar dikenang bukan sekadar sebagai penyair Angkatan ’45. Ia adalah suara keberanian: keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk jujur pada luka, dan keberanian untuk hidup sepenuh-penuhnya, meski sadar bahwa segalanya akan berakhir.
Umurnya singkat, tetapi jejaknya panjang. Ni Selama kata-katanya terus dibaca, Chairil Anwar akan tetap hidup di kepala, di dada, dan di kegelisahan banyak orang. (Ce Ha).












